Articles

MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG
(DIRECT INSTRUCTION/DI)

1. Pengertian Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction/DI)
Model Pembelajaran Langsung (DI) adalah pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Siswa tidak dituntut untuk menemukan materi itu. Materi pelajaran seakan-akan sudah jadi. Wina Sanjaya (2008: 179), menyebut model ini sebagai model Ekspositori, yang sering juga disebut dengan “chalk and talk”.
Model DI ini merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher centered approach). Dikatakan demikian, sebab dalam model ini guru memegang peran penting yang sangat dominan. Melalui model ini guru menyampaikan materi pembelajaran secara terstruktur dengan harapan materi pelajaran yang disampaikan itu dapat dikuasai siswa dengan baik. Fokus utama model ini adalah kemampuan akademik siswa.
Model DI bertumpu pada prinsip-prinsip psikologi perilaku dan teori belajar sosial, khususnya tentang pemodelan (modelling), yang telah dikembangkan oleh Albert Bandura. Menurut Bandura, belajar yang dialami manusia sebagian besar diperoleh dari suatu pemodelan, yaitu meniru perilaku dan pengalaman (keberhasilan dan kegagalan) orang lain.
Aliran psikologi belajar yang sangat memengaruhi DI adalah aliran belajar behavioristik. Aliran belajar behavioristik lebih menekankan kepada pemahaman bahwa perilaku manusia pada dasarnya keterkaitan antara stimulus dan respon, oleh karenanya dalam implementasinya peran guru sebagai pemberi stimulus merupakan faktor yang sangat penting. Dari asumsi semacam inilah, muncul berbagai konsep bagaimana agar guru dapat memfasilitasi sehingga hubungan stimulus-respon itu bisa berlangsung secara efektif.

2. Ciri-ciri Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction/DI)
Terdapat beberapa ciri / karakteristik model DI ini, yaitu: (a) DI dilakukan dengan cara menyampaikan materi pelajaran secara verbal, artinya bertutur secara lisan merupakan alat utama dalam melakukan strategi ini, oleh karena itu sering diidentikkan dengan ceramah, (b) biasanya materi pelajaran yang disampaikan adalah materi pelajaran yang sudah jadi, seperti data atau fakta, konsep-konsep tertentu yang harus dihafal sehingga tidak menuntut siswa untuk berfikir ulang. Ada yang menyebut dengan istilah pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif, (c) tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran itu sendiri. Artinya, setelah proses pembelajaran berakhir siswa diharapkan dapat memahaminya dengan benar dengan cara dapat mengungkapkan kembali materi yang telah diuraikan.

3. Tujuan Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction/DI)
Sebagian besar tugas guru ialah membantu siswa memperoleh pengetahuan prosedural, yaitu pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu, misalnya bagaimana cara menggunakan mikroskop, dan bagaimana melakukan suatu eksperimen. Guru juga membantu siswa untuk memahami pengetahuan deklaratif, yaitu pengetahuan tentang sesuatu (dapat diungkapkan dengan kata-kata), misalnya tentang konsep atom, elektron, proton, dan sebagainya.
Model DI dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Menghafal hukum atau rumus tertentu dalam bidang IPA merupakan contoh pengetahuan deklaratif sederhana (informasi faktual). Sedangkan, bagaimana cara mengoperasikan alat-alat ukur, mikroskop, dan sebagainya merupakan contoh pengetahuan prosedural.
Dalam banyak hal, penguasaan terhadap pengetahuan dasar prosedural dan deklaratif terdiri atas kegiatan khusus dan kegiatan berurutan. Misalnya, agar siswa terampil menggunakan alat destilasi untuk memisahkan campuran cair dengan cair (yang berbeda titik didihnya), memerlukan pengetahuan deklaratif tentang nama-nama bagian alat destilasi dan juga pengetahuan prosedural seperti bagaimana merangkai alat-alat destilasi, memanaskan cairan, dan seterusnya.
Contoh pengetahuan prosedural pada mata pelajaran IPA SMP/MTs aspek Kimia: menggunakan alat sederhana untuk menentukan skala keasaman dan kebasaan. Contoh pengetahuan deklaratif pada mata pelajaran IPA SMP/MTs aspek Kimia adalah mendefinisikan pengertian partikel materi (atom, ion, dan molekul), memberikan contoh materi tertentu yang terdiri atas ion-ion.

4. Strategi (Langkah-Langkah) Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction/DI)
Sebelum diuraikan tahapan (sintaks) model pembelajaran DI ini, terlebih dahulu diuraikan beberapa hal yang harus dipahami oleh setiap guru yang akan menggunakan model DI ini, yaitu: Pertama, rumuskan tujuan yang ingin dicapai. Merumuskan tujuan merupakan langkah pertama yang harus dipersiapkan. Tujuan yang ingin dicapai sebaiknya dirumuskan dalam bentuk perubahan tingkah laku yang spesifik yang berorientasi kepada hasil belajar. Dengan demikian, melalui tujuan yang jelas selain dapat membimbing siswa dalam menyimak materi pelajaran juga akan diketahui efektivitas dan efisiensi penggunaan model ini.
Kedua, kuasai materi pelajaran dengan baik. Penguasaan materi yang sempurna, akan membuat kepercayaan diri guru meningkat, sehingga guru akan muda mengelola kelas; ia akan bebas bergerak; berani menatap siswa; tidak takut dengan perilaku-perilaku siswa yang dapat mengganggu jalannya proses pembelajaran.
Ketiga, kenali medan dan berbagai hal yang dapat memengaruhi proses penyampaian. Pengenalan medan yang baik memungkinkan guru dapat mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat mengganggu proses penyajian materi pelajaran.
Berikut disajikan tabel 1, tentang sintaks Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction/DI).

TABEL 1: SINTAKS MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG
FASE-FASE PERILAKU GURU

Fase 1:
Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa

Fase 2:
Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan

Fase 3:
Membimbing pelatihan

Fase 4:
Mengecek pemahamandan memberikan umpan balik

Fase 5:
Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan
Guru menyampaikan tujuan, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar

Guru mendemostrasikan keterampilan yang benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap

Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal

Mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik

Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari

Langkah persiapan merupakan langkah yang sangat penting dalam model DI ini. Efektivitas DI ini sangat ditentukan oleh tahap persiapan ini. Beberapa hal yang bisa dilakukan dalam langkah persiapan, di antaranya: Pertama, berikan sugesti yang positif dan hindari sugesti yang negatif. Memberikan sugesti positif akan dapat membangkitkan kekuatan pada siswa untuk menembus rintangan dalam belajar. Sebaliknya, sugesti negatif dapat mematikan semangat belajar. Sugesti positif dapa diciptakan dengan menggunakan rumus PARTIS, yaitu Perasaan diterima, Aspirasi, Rasa aman, Tantangan, Identitas, dan Sukses. Di sampin itu juga bisa dilakukan dengan cara antara lain: gunakan poster tentang penyambutan, pelepasan, kalimat-kalimat afirmatif, dan lain-lain.
Kedua, mulailah dengan mengemukakan tujuan yang harus dicapai, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, hubungkan dengan konteks kehidupan siswa. Mengemukakan tujuan sangat penting artinya dalam setiap proses pembelajaran. Dengan mengemukakan tujuan siswa akan paham apa yang harus mereka kuasai serta mau dibawa ke mana mereka. Dengan demikian, tujuan merupakan “pengikat” baik bagi guru maupun bagi siswa. Langkah penting ini sering terlupakan oleh guru. Dalam pembelajaran, guru langsung menjelaskan materi pelajaran. Hal ini akan lebih baik lagi jika guru menyampaikan dan menjelaskan latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran tersebut, antara lain dengan menghubungkannya dengan konteks kehidupan siswa. Untuk hal ini dapat digunakan cara, misalnya: mengajukan pertanyaan, menggunakan gambar atau poster sebagai pemicu.
Ketiga, berikan gambaran besar. Gambaran besar ini berfungsi sebagai perintah kepada pikiran untuk menciptakan “folder” yang nantinya akan diisi dengan informasi. Ini dapat dilakukan dengan cara, berikan ringkasan dari apa yang akan dipelajari, jelaskan bagaimana cara anda akan mengajarkan materi pembelajaran dan berikan kata-kata kunci, tulis atau buat gambaran besar pada papan tulis materi pelajaran apa yang akan anda sampaikan, gunakan poster, gambar, flowchart atau mengajukan pertanyaan yang bersifat terbuka yang membutuhkan jawaban yang merangsang pemikiran yang mendalam.
Fase ke dua model DI ini adalah Guru mendemostrasikan keterampilan yang benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap. Pada tahap ini guru harus berusaha agar apa yang dilakukannya tidak terkesan membosankan murid. Monoton, suara yang tidak jelas, tidak ada penekanan pada bagian-bagian tertentu memungkinkan menimbulkan kebosanan siswa. Maka pada fase ke dua ini, guru seharusnya menggunakan dan mempertimbangkan keunikan siswa, yakni dalam gaya belajar mereka. Sampaikan materi dengan menggunakan variasi gaya belajar anak, yakni gaya belajar visual, kinestetis, dan auditoris. Untuk memfasilitasi murid yang memiliki gaya belajar visual, gunakan gerakan tubuh, grafik, diagram, peta pikiran, OHP/LCD, poster, kolase, flowchart, model/peralatan. Untuk memfasilitasi gaya belajar kinestetis, gunakan keterlibatan siswa, membuat model, memainkan peran/skenario, dan sebagainya. Sedang untuk memfasilitasi gaya belajar auditoris, gunakan suara yang jelas dengan intonasi yang terarah dan bertenaga, humor, membaca dengan keras, sesi tanya jawab, rekaman ceramah, dan sebagainya.
DI memerlukan perencanaan dan pelaksanaan yang sangat hati-hati di pihak guru. Agar efektif, DI mensyaratkan tiap detail keterampilan atau isi didefinisikan secara seksama. Demonstrasi dan jadwal pelatihan juga harus direncanakan dan dilaksanakan secara seksama. Sistem pengelolaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru harus menjamin terjadinya keterlibatan siswa, terutama melalui memperhatikan, mendengarkan, dan resitasi (tanya jawab) yang terencana. Ini tidak berarti bahwa pembelajaran bersifat otoriter, dingin, dan tanpa humor. Ini berarti bahwa lingkungan berorientasi pada tugas dan memberi harapan tinggi agar siswa mencapai hasil belajar dengan baik.
Tentu sebuah model pembelajaran tidak ada yang sempurna, pasti ada kelemahan dan kelebihannya. Nah, agar pelaksanaan model DI ini bisa lebih efektif, maka kelemahan dan kelebihannya perlu disampaikan. DI memiliki keunggulan-keunggulan, antara lain: (1) guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pelajaran, dengan demikian ia dapat mengetahui sampai sejauh mana siswa menguasai bahan pelajaran yang disampaikan, (2) efektif bila materi pelajaran yang harus dikuasai siswa cukup luas, sementara itu waktu yang dimiliki untuk belajar terbatas, (3) selain siswa dapat mendengar melalui penuturan tentang sesuatu materi pelajaran, juga sekalius siswa bisa melihat atau mengobservasi melalui pelaksanaan demontrasi, (4) bisa digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar.
DI ini juga memiliki kelemahan-kelemahan. Dengan mengetahui kelemahan-kelemahan ini, guru dapat membuat rencana-rencana lebih kreatif untuk menutupi kekurangan-kekurangan tersebut. Kelemahan DI antara lain: (1) hanya mungkin dapat dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak dengan baik, (2) tidak mungkin dapat melayani secara utuh perbedaan setiap individu baik perbedaan kemampuan, perbedaan pengetahuan, minat, dan bakat, serta perbedaan gaya belajar, (3) karena model ini banyak diberika melalui ceramah, maka akan sulit mengembangkan kemampuan siswa dalam hal kemampuan sosialisasi, hubungan interpersonal, serta kemampuan berfikir kritis, (4) sangat tergantung kepada apa yang dimiliki guru, seperti persiapan, pengetahuan, rasa percaya diri, semangat, antusiasme, motivasi, dan berbagai kemampuan seperti kemampuan bertutur, dan kemampuan mengelola kelas, (5) karena gaya komunikasi DI lebih banyak terjadi satu arah (one-way communication), maka kesempatan untuk mengontrol pemahaman siswa akan materi pembelajaran akan sangat terbatas pula.
Memerhatikan beberapa kelemahan di atas, maka sebaiknya dalam melaksanakan model ini guru perlu persiapan yang matang baik mengenai materi pelajaran yang akan disampaikan maupun mengenai hal-hal lain yang dapat memengaruhi kelancaran proses presentasi.

MODEL COOPERATIVE LEARNING

1. Pengertian Model Cooperative Learning (CL)
Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Pembelajaran kooperatif dikembangkan berdasarkan teori belajar kognitif-konstruktivis. Hal ini terlihat pada salah satu teori Vygotsky, yaitu tentang penekanan pada hakikat sosiokultural dari pembelajaran. Vygotsky yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam percakapan atau kerjasama antar individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi itu terserap ke dalam individu tersebut. Implikasi dari teori Vygotsky ini dikehendakinya susunan kelas berbentuk pembelajaran kooperatif.
Penerapan model pembelajaran kooperatif ini juga sesuai dengan yang dikehendaki oleh prinsip-prinsip CTL (Contextal Teaching and Learning), yaitu tentang leaning community. Manusia memiliki derajat potensi, latar belakang historis, serta harapan masa depan yang berbeda-beda. Karena adanya perbedaan, manusia dapat silih asah (saling mencerdaskan). Pembelajaran kooperatif secara sadar menciptakan interaksi yang silih asah sehingga sumber belajar bagi siswa bukan hanya guru dan buku ajar tetapi juga sesama siswa.
Manusia adalah makhluk individual, berbeda satu sama lain. Karena sifatnya yang individual maka manusia yang satu membutuhkan manusia lainnya sehingga sebagai konsekuensi logisnya manusia harus menjadi makhluk sosial, makhluk yang berinteraksi dengan sesamanya. Karena satu sama lain saling membutuhkan maka harus ada interaksi silih asih (saling menyayangi atau saling mencintai). Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang secara sadar dan sengaja menciptakan interaksi yang saling mengasihi antar sesama siswa.
Perbedaan antar manusia yang tidak terkelola secara baik dapat menimbulkan ketersinggungan dan kesalahpahaman antar sesamanya. Agar manusia terhindar dari ketersing-gungan dan kesalahpahaman maka diperlukan interaksi yang silih asuh (saling tenggang rasa). Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang silih asuh untuk menghindari ketersingungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan permusuhan. Dengan ringkas Abdurrahman dan Bintoro (2000:78) mengatakan bahwa “pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih asuh antar sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata.

2. Ciri-ciri Model Cooperative Learning (CL)
Pembelajaran kooperatif adalah suatu system yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Adapun berbagai elemen dalam pembelajaran kooperatif adalah : (1) saling ketergangungan positif; (2) interaksi tatap muka; (3) akuntabilitas individual, dan (4) keterampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi atau keterampilan sosial yang secara sengaja diajarkan” (Abdurrahman dan Bintoro, 2000:78 – 79)
a. Saling Ketergantungan Positif (Positive Interdependence)
Dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Saling ketegantungan tersebut dapat dicapai melalui; (a) saling ketergantungan pencapaian tujuan, (b) saling ketegantungan dalam menyelesaikan tugas, (c) saling ketergantungan bahan atau sumber, (d) saling ketergantungan peran, dan (e) saling ketergantungan hadiah.
Dalam CL, keberhasilan suatu penyelesaian tugas sangat tergantung kepada usaha yang dilakukan setiap anggota kelompoknya. Oleh sebab itu, perlu disadari oleh setiap anggota kelompok keberhasilan tugas kelompok akan ditentukn oleh kinerja masing-masing anggota. Dengan demikian, semua anggota dalam kelompok akan merasa saling ketergantungan.
b. Interaksi tatap muka (Face to Face Promotion Interaction)
Interaksi yang menuntut siswa dalam kelompok untuk saling bertatap muka sehingga mereka dapat melakukan dialog, tidak hanya dengan guru, tetapi juga dengan sesama siswa.
c. Akuntabilitas Individual (Individual Accountability)
Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok. Meskipun demikian, penilaian ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran individual. Penilaian kelompok yang didasarkan atas rata-rata penguasaan semua anggota kelompok secara individual inilah yang dimaksud dengan akuntabilitas individual.
d. Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi
Dalam pembelajaran kooperatif keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, berani mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri, dan berbagai sifat lain yang bermanfat dalam mejalin hubungan antar pribadi (interpersonal relationship) tidak hanya diasumsikan tetapi secara sengaja diajarkan. Siswa yang tidak dapat menjalin hubungan antar pribadi tidak hanya memperoleh teguran dari guru tetapi juga dari sesama siswa.

3. Tujuan Pembelajaran Cooperative Learning (CL)
Model CL sangat berbeda dengan DI. Di samping model CL dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik, model CL juga efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Para pakar juga menjelaskan bahwa model CL ini sangat bagus untuk membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit dan juga membatu mereka untuk mengembangkan cara berpikir kritis.
Dalam pembelajaran kooperatif tidak hanya mempelajari materi saja, namun siswa juga harus mempelajari keterampilan-keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif ini berfungsi untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antar anggota kelompok. Sedangkan peranan tugas dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok selama kegiatan.
Keterampilan-keterampilan kooperatif tersebut antara lain sebagai berikut (Lundgren, 1994):
a. Keterampilan kooperatif tingkat awal, meliputi:
1) Menggunakan kesepakatan
2) Menghargai kontribusi
3) Mengambil giliran dan berbagi tugas
4) Berada dalam kelompok
5) Berada dalam tugas
6) Mendorong partisipasi
7) Mengundang orang lain untuk berbicara
8) Menyelesaikan tugas pada waktunya
9) Menghormati perbedaan individu
b. Keterampilan kooperatif tingkat menengah, meliputi:
1) Menunjukkan penghargaan dan simpati
2) Mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara yang dapat diterima
3) Mendengarkan dengan aktif
4) Bertanya
5) Membuat ringkasan
6) Menafsirkan
7) Mengatur dan mengorganisir
8) Menerima tanggung jawab
9) Mengurangi ketegangan
c. Keterampilan kooperatif tingkat mahir, meliputi:
1) Mengelaborasi
2) Memeriksa dengan cermat
3) Menanyakan kebenaran
4) Menetapkan tujuan
5) Berkompromi

4. Strategi (Langkah-langkah) Pembelajaran Cooperative Learning (CL)
Terdapat enam langkah utama atau tahapan di dalam pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif. Pelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pelajaran dan memotivasi siswa belajar. Fase ini diikuti oleh penyajian informasi; seringkali dengan bahan bacaan daripada secara verbal. Selanjutnya siswa dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Tahap ini diikuti bimbingan guru pada saat siswa bekerja bersama untuk menyelesaikan tugas bersama mereka. Fase terakhir pembelajaran kooperatif meliputi presentasi hasil akhir kerja kelompok, atau evaluasi tentang apa yang telah mereka pelajari dan memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu. Enam tahap pembelajaran kooperatif itu dirangkum pada tabel 2.

Tabel 2: SINTAKS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
FASE-FASE TINGKAH LAKU GURU
1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Guru menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
2 Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
3 Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka
5 Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
6 Memberikan penghargaan Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok

Lingkungan belajar untuk pembelajaran kooperatif dicirikan oleh proses demokrasi dan peran aktif siswa dalam menentukan apa yang harus dipelajari dan bagaimana mempelajarinya. Guru menerapkan suatu struktur tingkat tinggi dalam pembentukan kelompok dan mendefi-nisikan semua prosedur, namun siswa diberi kebebasan dalam mengendalikan dari waktu ke waktu di dalam kelompoknya. Jika pelajaran pembelajaran kooperatif ingin menjadi sukses, materi pelajaran yang lengkap harus tersedia di ruangan guru atau perpustakaan atau di pusat media. Keberhasilan juga menghendaki syarat dari menjauhkan kesalahan trdisional, yaitu secara ketat mengelola tingkah laku siswa dalam kerja kelompok.
Pembelajaran kooperatif menuntut guru untuk berperan relatif berbeda dari pembelajaran tradisional. Berbagai peran guru dalam pembelajaran kooperatif tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Merumuskan tujuan pembelajaran,
Ada 2 tujuan, yaitu tujuan akademik (academic objective), dan tujuan keterampilan bekerja sama (collaborative objective).
b. Menentukan jumlah anggota dalam kelompok belajar.
Jumlah anggota dalam tiap kelompok belajar tidak boleh terlalu besar, biasanya 2 hingga 6 siswa dengan tujuan agar semua anggota aktif. Ada tiga factor yang menentukan jumlah anggota tiap kelompok belajar, yaitu (a) taraf kemampuan siswa, (b) ketersediaan bahan, (c) ketersediaan waktu. Ada beberapa ketentuan dalam pembentukan kelompok, yakni (a) hendaknya pengelompokan dibuat heterogen (jenis kelamin, ras, agama (kalau mungkin), tingkat kemampuan (tinggi, sedang, rendah), dan sebagainya. (b) ada dua jenis kelompok yakni kelompok yang berorintasi bukan pada tugas (non-task oriented). Anak-anak yang belum banyak pengalaman belajar kooperatif ditempatkan pada kelompok ini. Kelompok yang berorientasi pada tugas (task oriented). Anak-anak yang sudah terbiasa belajar pembelajaran kooperatif ditempatkan pada kelompok ini. (c) hendaknya guru menentukan kelompok belajar, bukan dilakukan oleh murid secara bebas.
c. Menentukan tempat duduk siswa
d. Merancang bahan untuk meningkatkan saling ketegantungan.
Ada 3 cara untuk menciptakan saling ketergantungan, yaitu: (a) saling ketergantungan bahan, (b) saling ketergantungan informasi, (c) saling ketergantungan menghadapi lawan dari luar.
e. Menentukan peran siswa untuk menunjang saling ketegantungan positif.
f. Menjelaskan tugas akademik
g. Menjelaskan kepada siswa mengenai tujuan dan keharusan bekerja sama
h. Menyusun akuntabiltas individual
i. Menyusun kerja sama antar kelompok
j. Menjelaska criteria keberhasilan
k. Menjelaskan perilaku siswa yang diharapkan
l. Memantau perilaku siswa
m. Memberikan bantuan kepada siswa dalam menyelesaikan tugas
n. Melakukan intervensi untuk mengajarkan keterampilan bekerja
o. Menutup pelajaran
p. Menilai kualitas pekerjaan atau hasil belajar siswa
q. Menilai kualitas kerja sama antar anggota kelompok
Di dalam model pembelajaran CL, ada banyak metode yang dapat digunakan. Berikut ini akan disampaikan beberapa metode saja.

a. Student Teams – Achievement Division (STAD)
STAD atau Tim Siswa – Kelompok Prestasi merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Dalam STAD siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok dengan anggota 4 – 5 orang, dan setiap kelompok haruslah heterogen. Guru menyajikan pelajaran, dan kemudian siswa bekerja di dalam tim mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya, seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu, dan pada saat kuis ini mereka tidak boleh saling membantu.
Skor siswa dibandingkan dengan rata-rata skor yang lalu mereka sendiri, dan poin diberikan berdasarkan pada seberapa jauh siswa menyamai atau melampui prestasinya yang lalu. Poin tiap anggota tim ini dijumlah untuk mendapatkan skor tim, dan tim yang mencapai criteria tertentu dapat diberi sertifikat atau penghargaan yang lain.
b. Teams-Games-Tournaments (TGT)
TGT atau Pertandingan-Permainan-Tim merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang berkaitan denganSTAD. Dalam TGT, siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh tambahan poin pada skor tim mereka. Permainan disusun dari pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan pelajaran yang dirancang untuk mengetes pengetahuan yang diperoleh siswa dari penyampaian pelajaran di kelas dan kegiatan-kegiatan kelompok. Permainan itu dimainkan pada meja-meja turnamen. Setiap meja turnamen dapat diisi oleh wakil-wakil kelompok yang berbeda, namun yang memiliki kemampuan yang setara.
Permainan ini berupa pertanyaan-pertanyaan yang ditulis pada kartu-kartu yang diberi angka. Tiap-tiap siswa akan mengambil sebuah kartu yang diberi angka dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan angka tersebut.Turnamen ini memungkin-kan bagi siswa dari semua tingkat untuk menyumbangkan dengan maksimal bagi skor-skor kelompoknya bila mereka berusaha dengan maksimal. Turnamen ini dapat berperan sebagai review materi pelajaran.

c. Jig-Saw
Dalam penerapan jig-saw, siswa dibagi berkelompok dengan anggota kelompok 5 atau 6 orang heterogen. Materi pelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa sub bab. Sebagai missal, bab zat dan wujudnya dapat dibagi menjadi sub bab: masa jenis zat, zat padat, zat cair, zat gas, serta panas dan gerak partikel. Setiap anggota kelompok membaca sub bab yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajari bagian yang diberika itu.
Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikan sub bab mereka. Setelah itu para siswa kembali ke kelompok asal mereka dan bergantian mengajar teman satu kelompok mereka tentang sub bab mereka. Satu-satunya cara siswa dapat belajar sub-sub bab lain selain dari sub bab yang mereka pelajari adalah dengan mendengarkan secara sungguh-sungguh terhadap teman satu kelompok mereka. Setelah selesai pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa-siswa dikenai kuis secara individu tentang materi belajar. Skor kelompok menggunakan prosedur scoring yang sama dengan STAD.
d. Think – Pair – Share (TPS)
TPS atau Berpikir – Berpasangan – Berbagi merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.Struktur yang dikembangkan ini dimaksudkan sebagai alternative terhadap struktur kelas tradisional. Struktur ini meng-hendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil (2 – 6 anggota) dan lebih dicirikan oleh penghargaan kooperatif daripada penghargaan individual.
TPS memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Misalkan seorang guru baru saja meyelesaikan suatu penyajian singkat, atau siswa telah membaca suatu tugas, atau suatu situasi penuh teka-teki telah dikemukakan. Dan guru menginginkan siswa memikirkan secara lebih mendalam tentang apa yang telah dijelaskan atau dialami. Guru memilih untuk menggunakan TPS sebagai ganti Tanya jawab seluruh kelas. Guru perlu penerapan langkah-langkah seperti berikut ini:
a. Tahap-1:
Thinking (berpikir). Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran. Selanjutya siswa diminta untuk memikirkan jawaban pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.
b. Tahap-2:
Pairing (berpasangan). Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa yang lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirka pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat berbagi jawaban atau berbagi ide. Biasanya guru memberi waktu 4 – 5 menit untuk berpasangan.
c. Tahap-3:
Sharing (berbagi). Pada tahap akhir ini, guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan. Ini dapat dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai sekitar seper-empat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.
e. Numbered-Head-Together (NHT)
NHT atau Penomoran-Berpikir Bersama merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang sejenis dengan TPS, dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternative terhadap struktur kelas tradisional. Sebagai gantinya mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas, guru menggunakan struktur empat langkah seperti berikut:
a. Tahap – 1:
Penomoran. Guru membagi siswa ke dalam kelompok beranggota 3 – 5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5.
b. Tahap-2:
Mengajukan Pertanyaan. Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi. Pertanyaan dapat amat spesifik dan dalam bentuk kalimat Tanya atau berbentuk arahan.
c. Tahap-3:
Berpikir Bersama. Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam kelompoknya mengetahui jawaban itu.
d. Tahap-4:
Menjawab.Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.
Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, bahwa model CL digunakan untuk pembelajaran yang berorientasi dan membantu siswa memahami konsep-konsep yang rumit/sulit, juga bagaimana mengembangkan keterampilan sosial/kooperatif siswa.

MODEL PEMBELAJARAN PBI
(PROBLEM BASED INSTRUCTION)

1. Pengertian Model Problem Based Instruction (PBI)
Menurut Ibrahim dan Nur (2000: 2), “Pengajaran berbasis masalah (Problem-Based Instruction) dikenal dengan nama lain seperti Project-Based Learning (Pembelajaran Proyek), Experience-Based Education (Pendidikan berdasarkan pengalaman), Authentic Learning (Pembelajaran autentik), dan Anchored instruction (Pembelajaran berakar pada kehidupan nyata)”.
Mayo, Donnely, Nash & Schwartz, 1993 dalam Whatis PBL.html mendefinisikan Problem-Based Instruction sebagai strategi untuk pemecahan masalah yang signifikan, yang disandarkan pada situasi keadaan yang nyata dan memberikan sumber-sumber, menunjukkan atau memandu dan memberikan petunjuk pada pembelajar untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan pemecahan masalah.
Menurut Finkle dan Torp (1995 dalam http://www.corf.html) dijelaskan bahwa Problem-Based Learning adalah sebuah kurikulum sistem pengajaran yang simultan untuk mengembangkan antara strategi pengembangan pemecahan masalah dari dasar pengembangan disiplin pengetahuan dan keterampilan siswa dalam memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi dengan menyesuaikan pada permasalahan yang nyata. Di dalam problem-based learning, siswa bekerja dalam suatu kelompok kecil untuk membahas sesuatu masalah yang tidak dimengerti dan penting, apa yang mereka tidak tahu dan berusaha untuk belajar memecahkan permasalahan tersebut . (White H.B &Richlin, 1996: http://udel/pbl/dancase).
Hamzah (2004: http://www.udel.edu/pbl/) menjelaskan bahwa Problem-Based Instruction (PBI) merupakan salah satu metode pembelajaran dimana Authentic Assesment (penilaian nyata) dapat diterapkan secara komprehensif. Keuntungan dari pembelajaran Problem-Based Instruction yakni, memberikan fokus yang menarik bagi siswa dalam menyusun pemecahan masalah yang nyata dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan permasalahan yang kontekstual melalui penerapan ceramah dan penggabungan penelitian sehingga siswa akan senantiasa aktif menyusun konsep yang akhirnya dimemorikan dalam kognitifnya di dalam pembelajaran yang bermakna.
Strategi pembelajaran Problem-Based Instruction, merupakan bagian dari metode pembelajaran inquiri yang di dalamnya terdapat juga unsur kooperatif. Agar belajar dapat bermakna secara signifikan diperlukan adanya inisiatif yang datang dari pihak siswa itu sendiri, dan ia harus sepenuhnya terlibat. Hal ini akan dapat terjadi dengan apa yang disebut belajar eksperimental (experimential learning). (Soekamto dan Winataputra, 1996 : 35).
Menurut Hamzah (2004: http://www.udel.edu/pbl/) Problem-Based Learning (PBL) terbagi dua, yaitu:
a. Problem Posing
Merupakan suatu proses memunculkan masalah, dan juga suatu langkah untuk memecahkan masalah yang lebih rumit dari sebelumnya. Proses ini dapat dimunculkan dari situasi, siswa atau juga oleh guru.
b. Problem Solving
Merupakan pemecahan masalah. Dalam problem solving ini meliputi dua aspek yaitu masalah untuk menemukan (problem to find) dan masalah membuktikan (problem to prove).

2. Ciri-ciri Model Problem Based Instruction (PBI)
PBI dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihdapi secara ilmiah. Terdapat 3 ciri utama dari PBI. Pertama, PBI merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi PBI ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa. PBI tidak mengharapkan siswa hanya sekedar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui PBI siswa aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan. Kedua, aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. PBI menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa masalah maka tidak mungkin ada proses pembelajaran. Ketiga, pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris. Sistematis artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu; sedangkan empiris artinya proses penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas.
Untuk mengimplementasikan PBI, guru perlu memilih bahan pelajaran yang memiliki permasalahan yang dapat dipecahkan. Permasalahan tersebut bisa diambil dari buku teks atau dari sumber-sumber lain, misalnya dari peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar, dari peristiwa dalam keluarga atau dari peristiwa kemasyarakatan.
Model PBI merupakan model pembelajaran yang melibatkan siswa dengan masalah nyata, sehingga motivasi dan rasa ingin tahu menjadi meningkat. Dengan demikian siswa diharapkan dapat mengembangkan cara berfikir dan keterampilan yang lebih tinggi. Anies (2003 : 1) mengemukakan bahwa model PBL merupakan suatu metode instruksional yang mempunyai ciri-ciri penggunaan masalah nyata sebagai sebagai konteks siswa yang mempelajari cara berpikir kritis serta keterampilan dalam memecahkan masalah.
Lebih lanjut, Gallow (2003 : 1) menjelaskan bahwa PBI meletakkan asumsi dasar pada permasalahan yang berbentuk narasi, kasus, atau dunia nyata yang membutuhkan keahlian. Masalah tersebut tidak dapat didekati dengan solusi final sebagai suatu yang salah atau benar, tetapi menekankan pada solusi bijak yang didasarkan pada pengetahuan dan keterampilan tertentu.
Masalah yang menjadi pijakan proses belajar dalam pendekatan ini diambil pada masalah nyata yang siswa dapat melihat, merasakan dan secara geografis dekat dengan mereka. Dalam hal ini, masalah tidak serta merta ditentukan oleh guru. Masalah – meskipun guru sebagai manager utama pembelajaran memiliki kewenangan menentukan topik masalah – tetapi secara otoriter menentukan sendiri secara paksa.

3. Tujuan Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI)
PBI tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa, tetapi PBI dimaksudkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual; belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi; dan menjadi pembelajar otonom dan mandiri.
Banyak masalah yang ada di lingkungan siswa. Dengan PBI dapat meningkatkan kepekaan siswa dengan situasi lingkungan. Kepekaan tersebut bukan hanya diwujudkan dalam perasaan tetapi ada langkah-langkah praktis yang dapat dilakukan mereka untuk memberikan solusi bagi masalah tersebut.
Dalam hubungannya dengan mata pelajaran IPA aspek Biologi di MTs/SMP, guru harus mampu melakukan analisis SKKD, dan menentukan KD / Indikator mana yang paling tepat digunakan PBI. Indikator-indikator yang memberikan peluang munculnya masalah-masalah dan memerlukan penyelesaian, serta membutuhkan kemampuan berpikir ilmiah adalah indikator-indikator yang lebih tepat digunakan PBI.

4. Strategi (langkah-langkah/sintaks) Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI)
Karakteristik dalam metode Problem Based Leaning ini antara lain:
a. Pemunculan masalah dari siswa atau situasi masalah dari guru.
b. Pengajuan pertanyaan masalah atau soal yang berfokus pada keterkaitan antar disiplin. Penyelidikan authentic atau penyelidikan dalam rangka melakukan reinvention (pengulangan pernyataan masalah).
c. Menghasilkan produk, karya atau penyelesaian masalah. Kerja sama (berpasangan, kelompok kecil atau kelompok besar sesuai dengan pilihan guru dan siswa).
Uraian tersebut di atas merupakan proses yang harus dilakukan guru dalam rangka membentuk suatu metode PBL dalam kelas. Penjelasan langkah berikut akan dapat membantu memahami uraian di atas.

Tabel 3: SINTAKS MODEL PBI
FASE-FASE TINGKAH LAKU GURU
Fase 1:
Orientasi siswa kepada masalah

Fase 2:
Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Fase 3:
Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok

Fase 4:
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Fase 5:
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistic yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih

Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut

Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah

Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya sesuai seperti laporan, video, dan model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya

Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-prosesyang mereka gunakan

Lingkungan belajar PBI tidak seperti lingkungan belajar yang testruktur secara ketat yang dibutuhkan untuk pembelajaran langsung atau penggunaan yang hati-hati kelompok kecil pada pembelajaran kooperatif. PBI bercirikan: terbuka, proses demokrasi dan peranan siswa aktif. Dalam kenyataan, keseluruhan proses membantu siswa untuk menjadi mandiri, siswa yang otonom yang percaya pada keterampilan intelektual mereka sendiri memerlukan keterlibatan aktif dalam lingkungan berorienasi inkuari yang aman secara intelektual.

ACCELERATED TEACHING
DALAM PEMBELAJARAN DI KELAS

Ketika guru mengajar di kelas, murid-muridnya ada yang mengantuk, ada yang berbicara sendiri, ada yang membaca komik, ada juga yang mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) pelajaran lainnya, dan lain-lain. Bisa dipastikan guru akan marah-marah, sebab ia sama sekali tidak diperhatikan. Guru merasa disepelekan. Lalu guru membentak-mbentak murid atau berceramah memberikan pengarahan akan pentingnya belajar dengan baik, atau pentingnya berkonsentrasi ketika pelajaran berlang-sung. Bahkan bisa “mengintimidasi” mereka dengan menatuk-nakuti mereka dengan nilai yang buruk di raport.
Sebaliknya, ketika guru mengikuti ceramah pembinaan dari pihak yang berwewenang, atau mengikuti seminar tentang pendidikan, tentang kurikulum dan pembelajaran, guru-guru itupun ternyata ada yang mengantuk, ada yang bicara sendiri tentang anak-anak mereka di rumah. Ada juga yang utak-atik dan coret-coret di atas kertas yang tidak jelas apa yang dimauinya. Ketika ditanyakan kepada mereka, mengapa mereka berbuat seperti itu? Jawaban mereka, karena pemprasarannya tidak menarik, monoton, bicara dengan dirinya sendiri, hanya membaca teks, dan sebagainya.
Yang jelas mereka tidak menyalahkan dirinya sendiri, tetapi menyalahkan pemprasarannya. Namun aneh, mengapa ketika guru-guru itu mengajar di depan kelas, lalu murid-muridnya ramai sendiri, mengan-tuk dan lain-lain, yang disalahkan dan dimarahi murid-muridnya? Jelas, murid-muridnya tidak berani protes bahwa sesungguhnya gurunya membosankan, monoton, hanya ceramah saja, suaranya tidak jelas, penjelasannya bertele-tele, dan sebagainya.
Problem murid ramai sendiri, mengantuk, mengerja-kan yang lain, membaca komik ketika proses belajar mengajar berlangsung atau problem guru-guru ramai sendiri, mengantuk, mengerjakan yang lain, membaca koran ketika pemprasaran menyampaikan materinya sebenarnya adalah problem metodologi atau strategi. Guru tidak mampu menggunakan metodologi dan strategi pembelajaran yang tepat, menyenangkan, dan mengaktifkan. Demikian juga pemprasaran tersebut.
Sebagai guru seharusnya tidak terlalu menyalahkan muridnya ketika mereka tidak antusias dalam PBM. Guru seharusnya melakukan evaluasi dan introspeksi. Mungkin metode dan strategi yang digunakan tidak tepat.
Berbicara tentang metodologi dan strategi pembelajaran di dalam kelas yang menyenangkan memerlukan seperangkat pengetahuan sekali-gus keterampilan (skill) yang mumpuni. Seorang guru yang berkeinginan agar kegiatan mengajarnya di kelas mendapat perhatian penuh dan respon positif murid-muridnya wajib memahami pengetahuan ini. Bukan hanya memahami, namun juga harus terus-menerus berlatih sehingga memiliki skill yang handal.
Makalah ini berusaha untuk memberikan berbagai alternatif atau setidaknya memberikan landasan yang kokoh kepada guru untuk mengembangkan cara mengajarnya di kelas agar lebih efektif dan efisien dengan menghasilkan produk pembelajaran seperti yang diharapkan. Tentu kalau sudah berbicara tentang pembelajaran di kelas, sebenarnya menyangkut banyak hal dan kompleks. Karena yang dihadapi adalah manusia yang memiliki sisi-sisi perasaan, emosi, minat, dan sebagainya.
Makalah sederhana ini ingin memberikan landasan-landasan yang kokoh untuk menjadikan guru mampu melakukan Pengajaran Efektif yang dilandasi dengan berbagai pengetahuan tentang cara kerja otak, cara kerja memori, motivasi, konsep diri, kepribadian, emosi, perasaan, teori kecerdasan majemuk (Multiple Intelligences), dan sebagainya. Semoga memberikan manfaat kepada guru yang mau menggunakannya.

Pengertian Accelerated Teaching
Accelerated Teaching adalah sebuah model pembelajaran yang dikemas sedemikian rupa yang menggunakan pengetahuan yang berasal dari berbagai disiplin ilmu seperti pengetahuan tentang cara kerja otak, cara kerja memori, neuro-linguistic programming, motivasi, konsep diri, kepribadian, emosi, perasaan, pikiran, metakognisi, gaya belajar, multiple intelligences atau kecerdasan majemuk, teknik memori, teknik membaca, teknik mencatat, dan teknik belajar lainnya.
Di luar negeri, model pembelajaran ini dikenal dengan beragam nama, seperti Accelerated Learning, Quantum Learning, Quantum Teaching, Super Learning, Efficient and Effective Learning. Pada intinya, tujuan berbagai model ini sama, yaitu bagaimana membuat proses pembelajaran menjadi efisien, efektif, dan menyenangkan.

Prinsip-prinsip Accelerated Teaching
Menurut Adi W. Gunawan dalam bukunya “Accelerated Teaching Strategy” ada sembilan prinsip dalam Accelerated Teaching, yaitu:
1. Otak akan berkembang dengan maksimal dalam lingkungan yang kaya akan stimulus multi sensori dan tantangan berpikir. Lingkungan demikian akan menghasilkan jumlah koneksi yang lebih besar di antara sel-sel otak.
2. Besarnya pengharapan / ekspektasi berbanding lurus dengan hasil yang dicapai. Otak selalu berusaha mencari dan menciptakan arti dari suatu pembelajaran. Proses pembelajaran berlangsung pada level sadar dan pikiran bawah sadar. Motivasi akan meningkat saat murid menetapkan tujuan pembelajaran yang positif dan bersifat pribadi
3. Lingkungan belajar yang “aman” adalah lingkungan belajar yang memberikan tantantang tinggi namun dengan tingkat ancaman rendah. Dalam kondisi ini otak neo-cortex dapat diakses dengan maksimal sehingga proses berpikir dapat dijalankan dengan maksimal.
4. Otak sangat membutuhkan umpan balik yang bersifat segera dan mempunyai banyak pilihan.
5. Musik membantu proses pembelajaran dengan tiga cara. Pertama, musik membantu untuk men-charge otak. Kedua, musik membantu merilekskan otak sehingga otak siap untuk belajar. Dan ketiga, musik dapat digunakan untuk membawa informasi yang ingin dimasukkan ke dalam memori.
6. Ada berbagai alur dan jenis memori yang berbeda yang ada pada otak kita. Dengan menggunakan teknik dan strategi yang khusus, kemampuan untuk mengingat dapat ditingkatkan.
7. Kondisi fisik dan emosi saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Untuk bisa mencapai hasil pembelajaran secara maksimal, kedua kondisi ini, yaitu kondisi fisik dan kondisi emosi, harus benar-benar diperhatikan.
8. Setiap otak adalah unik dengan kapasitas pengembangan yang berbeda berdasarkan pada pengalaman pribadi. Ada beberapa jenis kecerdasan. Kecerdasan dapat dikembangkan dengan proses pengajaran dan pembelajaran yang sesuai.
9. Walaupun terdapat perbedaan fungsi antara otak kiri dan kanan, namun kedua belah hemisfer ini bisa bekerja sama dalam mengolah suatu informasi.

Accelerated Teaching step by step
Berdasarkan prinsip-prinsip di atas dan lebih jauh berdasar pada cara kerja otak, dapat dikemukakan langkah-langkah aplikatif dalam proses pembelajaran, yakni sebagai berikut:

Suasana Kondusif
Inti Accelerated Teaching adalah strategi pembelajaran yang membangun dan mengembangkan lingkungan pembelajaran yang positif dan kondusif. Tanpa lingkungan yang mendukung, strategi apapun yang diterapkan di dalam kelas akan sia-sia. Guru bertanggung jawab untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif sebagai persiapan untuk masuk ke dalam proses pembelajaran yang sebenarnya. Kondisi yang kondusif ini merupakan syarat mutlak demi tercapainya hasil yang maksimal. Untuk menciptakan suasana kondusif ini ada beberapa hal yang harus dilakukan:
a. Memenuhi kebutuhan fisik, yang meliputi :
1. Fisik murid: murid harus dijauhkan dari lapar, kekenyangan, haus, lelah, terlalu panas, terlalu dingin, terlalu dibatasi gerak-geriknya.
2. Fisik dan fasilitas pendukung ruang belajar: Pengaturan meja variatif, ukuran kelas yang tepat, suhu ruang yang nyaman, pencahayaan yang memadai, ketenangan kelas terjaga, berbagai hiasan (poster-poster, pot-pot bunga).
b. Memenuhi kebutuhan rasa aman, dicintai dan diharga.
Pemenuhan kebutuhan fisik bukanlah tugas yang terlalu sulit. Yang lebih sulit adalah untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi, yaitu kebutuhan akan rasa aman, dicintai dan dihargai. Faktor ini adalah faktor internal, yang walaupun sudah berusaha dipenuhi, sering kali tidak mudah untuk mewujudkannya.Accelerated Teaching menawarkan beberapa langkah praktis untuk memenuhi kebutuhan psikhis, yaitu:
 Ciptakan hubungan positif. Untuk menciptakannya, gunakan metode PARTIS , yaitu: Perasaan diterima, Aspirasi, Rasa aman, Tantantang, Identitas, dan Sukses.
Tip praktis untuk menciptakan Perasaan diterima: Gunakan dan sebut nama anak dengan positif, Berikan perhatian secara adil dan merata terhadap diri setiap anak, Bagi tugas dan tanggung jawab secara merata dan adil, Kelompokkan anak dengan kawan yang ia kenal baik, Kelompokkan anak dengan kawan yang belum ia kenal, Rayakan keberhasilan secara bersama-sama, Berikan pujian dan penghargaan pada saat-saat khusus
Tip praktis untuk menciptakan Aspirasi: Tunjukkan dan berikan contoh perilaku positif, Buat tembok aspirasi, suatu tembok atau tempat menempel aspirasi, Anjurkan murid untuk menggunakan kalimat positif “aku bisa …”, Gunakan poster/alat peraga untuk memperjelas apa yang dipelajari, Tetapkan target pribadi untuk murid
Tip praktis menciptakan Rasa aman: Rancang proses pembelajaran menjadi bagian-bagian kecil yang terukur yang dapat dimengerti setiap murid, Perhatikan bahasa lisan yang digunakan dalam komunikasi, Berikan penilaian positif, misalnya: hitunglah berapa jawaban benar, Perkuat perilaku positif dengan memberikan pujian atas perilaku baik, Lakukan aktivitas bersama
Tip praktis menciptakan Tantangan: Dorong murid melakukan self test sebagai bagian dari proses pembelajaran, Gunakan beragam jenis pengujian yang bersifat informal, Fokuskan peningkatan prestasi murid dengan membandingkan prestasi murid saat ini dengan prestasi sebelumnya, bukan dengan membandingkan prestasi murid satu dengan yang lain, Bagi proses pencapaian prestasi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan terukur, Berikan tanggung jawab dan peran bagi setiap murid secara bergantian, Bicarakan dengan murid metode penilaian yang akan digunakan untuk mengukur prestasi mereka.
Tip Praktis menciptakan Identitas : Kenali murid: nama sampai latar belakang, kesukaan, hobi, dan kebiasaan murid.Berikan pujian dan penghargaan atas prestasi murid. Tetapkan target secara individual dan memberikan keyakinan bahwa mereka bisa mencapai target itu. Temukan keunikan murid dan gunakan dalam komunikasi.Dorong murid berani mengambil tanggung jawab
Tip praktis menciptakan budaya Sukses: Luangkan waktu untuk mencari tahu keberhasilan kecil maupun besar yang dicapai oleh murid dan berikan waktu untuk mendengar cerita sukses dibalik peristiwa itu. Jelaskan kepada murid bahwa diperlukan usaha dan keuletan untuk bisa mencapai keberhasilan. Gunakan Goal-Setting agar tingkat pencapaian prestasi dapat diukur dengan mudah dan jelas.
 Guru berdiri di depan pintu kelas menyambut kedatangan murid dan menyalami murid satu persatu
 Sapa murid dengan menggunakan nama mereka masing-masing
 Buat catatan mengenai perkembangan diri setiap murid
 Gunakan poster: penyambutan, pelepasan, kalimat afirmatif, dll.
 Tempatkan meja guru dekat dengan meja murid
 Umpan balik dari murid
 Kelompok belajar

Hubungkan
Hubungkan pelajaran yang akan diajarkan dengan apa yang telah diketahui oleh murid sebelumnya, konteksnya, dan apa yang dapat dilakukan oleh murid dengan pelajaran itu pada masa akan datang. Semakin personal hubungan yang bisa diciptakan, hasilnya akan semakin baik.
Cara praktis yang dapat dilakukan adalah dengan:
Mengajukan pertanyaan. Pertanyaan selalu membutuhkan jawaban. Untuk bisa menjawab, kita perlu berpikir. Saat berpikir kita mengakses memori jangka pendek kita. Dengan demikian, memori ini terisi informasi baru dan menggeser informasi yang tidak ada gunanya ke luar dari memori jangka pendek. Untuk menghilangkan memori yang tidak berguna ini, murid diminta untuk menghubungkan (memikirkan) materi yang akan mereka pelajari saat ini dengan apa yang telah mereka ketahui sebelumnya. Selain itu, murid perlu mengerti aplikasi dari apa yang dipelajari ke dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal melakukan ini, minta murid untuk menuliskan di atas kertas, apa yang muncul di pikirannya. Ini akan semakin memperkuat pikirannya tentang materi yang akan dipelajari dan dengan demikian akan menghapus informasi tak berguna yang ada di dalam memorinya yang tidak ada hubungan sama sekali dengan materi pelajaran.
Gunakan gambar atau poster sebagai pemicu. Misalnya anda menggantungkan gambar manusia perahu. Lalu tanyakan kepada murid apa yang muncul dalam pikiran mereka saat mereka melihat gambar tersebut. Laukan brain-storming. Catat apa saja ide yang muncul dan tuliskan di papan tulis. Setelah mendapatkan cukup banyak ide, kategorikan ide-ide itu ke dalam kelompok-kelompok tertentu.
Membangun ide/idea-build-up. Cara ini bisa dilakukan sebagai berikut: Misalnya materi yang akan diajarkan adalah mengenai cara kerja otak manusia. Anda bisa meminta murid mengeluarkan kertas kosong dan menuliskan dua hal yang ia ketahui dan dua hal yang tidak ia ketahui mengenai otak. Ia boleh menulis apa saja. Setelah itu minta murid untuk saling membandingkan apa yang mereka tuliskan dengan teman di sebelahnya. Dari sini akan muncul empat hal yang diketahui dan empat hal yang tidak diketahui. Setelah itu, minta pasangan ini membandingkan isi kertas mereka dengan pasangan lain. Lakukan ini hingga semua pasangan telah saling membandingkan isi kertas mereka. Setelah ini semua selesai dilakukan, anda sebagai guru akan mendapat satu daftar, yang memberikan gambaran kelas secara menyeluruh, mengenai hal yang diketahui dan yang tidak diketahui mengenai otak. Lalu tuliskan daftar itu di papan tulis. Ajarkan materi mengenai otak berdasarkan informasi yang anda dapatkan dari murid anda. Ajarkan apa yang tidak mereka ketahui dann jangan membuang waktu mengulang apa yang telah mereka ketahui.

Gambaran besar
Untuk lebih membantu menyiapkan pikiran murid dalam menyerap materi yang diajarkan, sebelum proses pembelajaran dimulai, guru harus memberikan gambaran besar (big picture) dari keseluruhan materi. Memberi gambaran besar ini berfungsi sebagai perintah kepada pikiran untuk menciptakan “folder” yang nantinya akan diisi dengan informasi. Folder ini akan diisi dengan informasi yang sejalan pada saat proses pemasukan informasi. Pada tahap pemasukan informasi, materi pelajaran disampaikan secara linear dan bertahap. Mengapa gambaran besar ini sangat mambantu? Prinsip kerjanya sama dengan fungsi gambar yang ada pada puzzle. Bayangkan bila anda harus menyusun puzzle yang terdiri dari 1000 keping gambar tanpa diberi gambar besarnya. Tentu akan sangat sulit dan membingungkan.
Teknik yang digunakan adalah sebagai berikut: Berikan ringkasan dari apa yang akan dipelajari. Jelaskan bagaimana cara anda akan mengajarkan materi pembelajaran dan berikan kata-kata kunci.Tulis atau buat gambaran besar, pada papan tulis, dari materi pelajaran yang akan anda sampaikan. Gunakan gambar, poster, flowchart atau mengajukan pertanyaan yang bersifat terbuka yang membutuhkan jawaban yang merangsang pemikiran yang mendalam.
Gunakan kalimat, sebagai berikut: Pertanyaan yang ada di papan tulis adalah pertanyaan yang akan kita cari jawabannya bersama-sama melalui pelajaran / materi …… Poster yang saya pegang menunjukkan bagaimana proses pembelajaran kita akan dilakukan. Berikut ini adalah kata-kata kunci yang akan kita pakai pada sesi ini …..

Tetapkan tujuan
Pada tahap inilah proses pembelajaran baru dimulai. Apa hasil yang akan dicapai pada akhir sesi harus dijelaskan dan dinyatakan kepada murid. Hasil yang akan dicapai dapat dijelaskan langsung kepada seluruh kelas, ada juga yang dijelaskan per kelompok, atau kadang dijelaskan kepada murid secara pribadi. Tulislah dengan huruf yang besar dan jelas di papan tulis sehingga murid dapat senantiasa melihat tujuan dari proses pembelajaran yang akan segera mereka mulai. Tahap ini juga merupakan tahap goal-setting.
Ajarkan kepada murid cara untuk mencapai hasil yang telah ditetapkan, dengan menggunakan bahasa murid itu sendiri. Minta mereka untuk membuat goal secara detail, lebih baik kalau bisa secara tertulis.
Gunakan kalimat:
• Pada akhir sesi ini kita akan mengerti bahwa …. dan ….
• Marilah kita lihat dan amati goal yang telah kita tetapkan pada minggu lalu untuk ….
• Keluarkan kartu goal anda dan letakkan di meja …
• Bacalah hasil yang ingin anda capai ( di dalam hati ) sebelum anda memberi tahu kawan anda ….
• Setelah kita menyelesaikan pelajaran ini, kita akan tahu bahwa target yang kita tetapkan telah tercapai dengan menggunakan parameter ….
• Anda akan menunjukkan bahwa anda bisa menerapkan materi ini kepada ….

Pemasukan informasi
Pada tahap ini, informasi yang akan diajarkan harus disampaikan dengan melibatkan gaya belajar. Metode penyampaian harus bisa mengkombinasikan gaya belajar visual, auditori, dan kinestetis dan bila memungkinkan juga mengakomodasi gaya penciuman dan pengecapan. Pada tahap ini, memori jangka panjang akan dapat diakses apabila proses pemsukan informasi bersifat unik dan menarik. Gunakan strategi yang berbeda sesuai dengan situasinya, misalnya active concert, membaca dengan cara dramatisasi, menggunakan poster, gunakan pendekatan mendengar secara aktif dan berikan juga waktu untuk melakukan refleksi, review.
Lalu bagaimana tepatnya metode pengajaran/pemasukan informasi untuk mengakomodasi masing-masing gaya belajar?

Visual Auditoris Kinestetis
• gerakan tubuh/body language
• buku/majalah
• grafik, diagram
• peta pikiran/mind mapping
• OHP/LCD/Komputer
• poster
• kolase
• flowchart
• Highlighting (memberikan warna pada bagian yang dianggap penting)
• kata-kata kunci yang dipajang di sekeliling kelas
• tulisan dengan warna yang menarik
• model/peralatan • instruksi guru
• suara yang jelas dengan intonasi yang terarah dan bertenaga
• membaca dengan keras
• pembicara tamu
• sesi tanya jawab
• rekaman ceramah/kuliah
• diskusi dengan teman
• belajar dengan mendengarkan atau menyampaikan informasi
• kuliah
• role play / permainan peran
• musik
• kerja kelompok • merancang dan membuat aktivitas
• keterlibatan fisik
• field trip
• membuat model
• memainkan peran/skenario
• highlighting
• berjalan
• membuat mind mapping
• menggunakan gerakan tubuh untuk menjelaskan sesuatu
• waktu istirahat yang teratur

Selain memperhatikan cara penyampaian yang multi sensori, anda juga harus memutuskan, pada level mana dari perkembangan kognitif dalam taksonomi Bloom, murid akan diajar berpikir. Apakah hanya pada level pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis ataukah pada level evaluasi?

Aktivasi
Saat murid menerima informasi melalui proses pembelajaran (pemasukan informasi), informasi ini masih bersifat pasif. Murid masih belum merasa memiliki informasi atau pengetahuan yang ia terima. Mengapa? Karena proses penyampaian berlangsung satu arah, yaitu dari guru ke murid. Untuk bisa lebih meyakinkan bahwa murid benar-benar telah mengerti dan untuk menimbulkan perasaan di hati murid bahwa informasi yang barusan diajarkan adalah benar-benar milik mereka, kita perlu melakukan proses aktivasi.
Proses aktivasi merupakan proses yang membawa murid kepada satu tingkat pemahaman yang lebih dalam terhadap materi yang diajarkan. Dalam Accelerated Teaching, digunakan teori Multiple Intelligences Gardner untuk mengakses berbagai bentuk kecerdasan yang ada dalam diri murid. Proses aktivasi sebenarnya proses sederhana. Dengan menggunakan kalimat di bawah ini sebenarnya anda telah melakukan proses aktivasi dalam diri murid.
Gunakan kalimat:
• Jelaskan kepada kawan anda yang mungkin masih belum mengerti
• Coba buat ringkasan dalam pikiran anda apa yang paling penting bagi diri anda
• Tentukan lima kata kunci dan coba cari kata lain yang memiliki arti serupa
• Ambil lima kata kunci ini dan coba membuat lagu yang lucu
• Jika anda harus menciptakan tarian untuk menjelaskan kata-kata ini, apakah yang akan anda lakukan?
• Bagaimana cara terbaik untuk membuat gambar dari kata kunci ini agar orang lain yang belum mengerti bisa segera memahaminya?
• Coba ingat kembali apa saja yang telah kita pelajari hari ini dan buatlah urutan sesuai dengan waktu materi ini diajarkan, buat urutan sesuai tingkat kepentingan dari materi tersebut
• Bila anda harus mengajari seekor hewan mengenai kata kunci tersebut, hewan mana yang akan anda ajarkan dan bagaimana caranya?
Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan di atas mengakses delapan kecerdasan Gardner. Sangat baik jika tahap aktivasi tersebut didasarkan pada jenis kecerdasan murid yang paling dominan. Oleh karena itu seorang guru seharusnya melakukan uji kecerdasan murid-muridnya.
Aktivasi bisa dilakukan dengan menggunakan aktivitas yang dilakukan seorang diri, secara berpasangan atau secara berkelompok guna membangun kemampuan komunikasi dan kerja sama/kelompok. Dorong murid untuk membuat keputusan sendiri dan mengukur kemajuan yang mereka capai dibandingkan dengan kriteria sukses yang telah ditetapkan. Pada tahap ini murid menemukan arti yang sesungguhnya dari apa yang ia pelajari. Proses ini lebih bersifat internal. Murid mengintegrasikan apa yang ia pelajari dan menemukan makna yang sesungguhnya dari apa yang ia pelajari.
Berikut ini akan dicantumkan menu Multiple Intelligences:
Linguistik Musikal Visual/spasial
Menulis esai
Pokok-pokok pikiran
Kata-kata kunci
Menulis laporan
Menulis puisi
Bercerita
Permainan kata Membuat irama/jingle Flowchart/grafik
Mind Mapping
Visual Display
Mengunakan warna
Foto/gambar
Video
Melukis
Wawancara 5 tahun ke depan
Logis matematis Interpersonal Intrapersonal
Flowchart
Garik waktu
Analisis logis
Kritik
Permainan bola
Rumusan
Mengurutkan berdasar tingkat kepentingan Kerja kelompok
Menjelaskan atau mengajar teman
Memberikan dan menerima umpan balik
Wawancara
Berbagi dengan pasangan
Permainan jigsaw Perasaan
Diari/Jurnal
Pemikiran pribadi
Berpikir tenang dan hening
Menghubungkan pelajaran dengan pengalaman pribadi

Kinestetis Naturalis
Membuat model dari situasi
Mempraktikkan apa yang dipikirkan
Eksperimen
Gerakan tubuh
Ilustrasi dengan menggunakan bahasa tubuh

Demonstrasi
Tahap ini sebenarnya sama dengan proses guru menguji pemahaman murid dengan memberikan ujian. Hanya bedanya, dalam lingkaran Accelerated Teaching, kita langsung menguji pemahaman murid pada saat itu juga. Mengapa murid langsung diminta melakukan demostrasi?Ini bertujuan untuk benar-benar mengetahui sampai di mana pemahaman murid dan sekaligus merupakan saat yang sangat tepat untuk memberikan umpan bailik (feed back). Kalau dalam proses pembelajaran konvensional, guru biasanya akan memberikan ujian satu minggu setelah proses pemasukan informasi. Berdasarkan pada pemahaman kita akan cara kerja otak yang optimal, maka cara memberikan ujian ini sangat tidak efektif.
Dalam Accelerated Teaching, guru diminta untuk menyediakan waktu yang cukup untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk menunjukkan bahwa mereka mengerti materi yang diajarkan. Juga berikan waktu untuk menguji pengertian mereka tersebut.
Gunakan kalimat:
• Saya akan memainkan musik/lagu. Anda punya waktu sepanjang musik ini untuk menjelaskan kepada kawan anda mengenai ……
• Apa kata yang paling penting dalam halaman / paragraf / kalimat ini dan mengapa?
• Dengan kawan anda, siapkan role-play untuk menunjukkan …..
• Buat poster untuk menjelaskan ….
• Buat flowchart untuk menjelaskan alur dari …..
• Buat kartu dan tuliskan delapan kata kunci untuk …. dan tuliskan artinya di belakang kartu tersebut .
• Coba praktekkan apa yang telah anda pelajari.
Pada tahap ini bila murid mampu melakukan demonstrasi, maka hal ini berarti murid menunjukkan dan membuktikan kalau mereka telah mengerti apa yang dipelajari. Demonstrasi meliputi praktek langsung, membuat tes dan mengerti jawabannya, mengajar, mengerti aplikasi pengetahuan ini dalam kehidupan sehari-hari. Berikan umpan balik yang bersifat segera, mendidik serta membangun dan dorong murid untuk melakukan pemikiran lebih lanjut atas proses yang digunakan dalam pembelajaran.
Tahap ini adalah tahap yang sering kita lupakan. Apabila murid telah benar-benar mengerti apa yang mereka pelajari maka secara logis mereka harus dapat menunjukkan bahwa mereka telah mengerti.
Hal-hal lain yang perlu diperhatikan oleh guru adalah: Kepada siapa murid menunjukkan apa yang telah mereka pelajari? Bagaimana caranya? Akankah murid mempunyai kesempatan untuk melakukan refleksi dan mendapatkan pemahaman baru dari kegiatan ini? Apakah demonstrasi ini mendapat dukungan? Apakah aman secara fisik dan psikhis? Bagaimana murid yang lemah bisa mendapatkan dukungan untuk berani melakukan demonstrasi? Bagaimana anda dapat menjamin keberhasilan murid?

Tinjau ulang dan jangkarkan
Lakukan pengulangan dan penjangkaran pada akhir setiap sesi dan sekaligus membuat kesimpulan dari apa yang telah dipelajari. Ini bermanfaat untuk meningkatkan daya ingat dan meningkatkan efektivitas dari proses pembelajaran. Lakukan self-test atau tes yang dilakukan oleh murid sendiri terhadap pemahamannya.Bisa juga digunakan pengujian dengan cara berpasangan dengan rekan murid lainnya. Intinya adalah ciptakan suasana yang menyenangkan dan bebas dari stress saat anda melakukan tes. Gunakan kalimat:
• Berpasangan, tanyakan rekan anda mengenai ………..
• Jika anda adalah peserta “Who Wants to be a Milionaire” dan mendapat pertanyaan ,” ………………..”, apa jawaban anda?
• Berdiri dan pergi ke kelompok sebelah, kemudian jelaskan tiga hal yang anda ketahui mengenai ……….
• Diskusikan dalam kelompok anda dan putuskan satu hal penting mengenai ……, kemudian jelaskan hal ini kepada seluruh kelas.
• Buat sepuluh pertanyaan mengenai materi ini dan minta kelompok lain untuk menjawab pertanyaan anda.
Atau berikut ini ada beberapa teknik menarik yang dapat digunakan guru dalam melakukan proses peninjauan ulang/pengulangan dan penjangkaran.
Penutup Sesi Pembelajaran
Langkahnya:
• Murid membuat lingkaran (bisa sambil duduk atau berdiri)
• Setiap murid secara bergantian memberitahukan kepada murid lain: Sesuatu yang akan ia gunakan dari apa yang ia pelajari. Sesuatu yang akan selalu ia ingat dari materi yang ia pelajari. Suatu pengalaman AHA!-pengalaman yang sangat berkesan dari materi yang dipelajari.

Membicarakan Topik
Langkahnya:
• Murid berpasangan, mis A dan B
• A memberitahukan kepada B apa yang ia pelajari
• B memberitahukan kepada A apa yang ia pelajari (hal lain yang belum disebutkan oleh A)

“Ngobrol” Santai
Langkahnya:
• Buat satu kelompok yang terdiri dari tiga orang murid, misalnya A, B, dan C
• A mulai berbicara sampai mendapat tanda berhenti
• B lalu melanjutkan membicarakan topik yang dipelajari
• C melanjutkan menambahkan (saat B berhenti bicara)
• Lanjutkan sampai sudah tidak ada lagi informasi yang bisa disampaikan

Donat
Langkahnya:
• Gambar sebuah donat
• Pada bagian lingkaran luar, tulisan “Saya mempelajari” …
• Pada lingkaran dalam, tuliskan “Yang saya tahu dan mengerti”.

Rotasi Refleksi
Langkahnya:
• Buat kelompok kecil yang terdiri dari 3 atau 4 orang murid
• Tempelkan di dinding beberapa lembar kertas kosong (misal A4 atau A3) yang diberi judul yang berhubungan dengan topik yang dibahas
• Minta kelompok ini untuk berkumpul mengelilingi kertas tersebut dan memberikan pandangan atau ide terhadap topik yang dituliskan di kertas
• Setelah cukup waktu, kelompok itu pindah ke kertas lain. Kelompok lainnya mengambil tempat yang ditinggalkan kelompok pertama dan melakukan hal yang sana. Demikian seterusnya.
• Kelompok terakhir ditugaskan untuk merangkum informasi yang telah terkumpul dan menjelaskan kepada seluruh kelas.

Operan kertas ide
Langkahnya:
• Kegiatan ini membutuhkan kertas kosong dengan ukuran yang agak besar (akan lebih baik bila menggunakan kertas A3)
• Tuliskan topik yang berbeda pada masing-masing kertas.
• Setiap kelompok melakukan brain-storming dan menuliskan apa yang mereka ketahui mengenai topik tersebut.
• Setelah waktu yang ditentukan habis, kelompok pertama menyerahkan kertas tersebut kepada kelompok kedua.
• Kelompok kedua membaca apa saja yang telah ditulis dan kemudian menambahkan apa saja yang belum dimasukkan.
• Kelompok kedua menyerahkan kertas kepada kelompok ketiga. Dan kelompok ketiga melakukan hal yang sama.
• Kelompok terakhir mencari referensi dari pernyataan yang telah dituliskan ke atas kertas.
• Tuliskan nomor halaman atau sumber yang digunakan sebagai referensi.
• Tunjukkan kepada seluruh kelas dan tempelkan di dinding.

Komentar penutup
Berikan pada murid tugas sebelum mereka meninggalkan ruanga kelas. Tugas ini akan memberikan umpan balik atau feedback kepada guru mengenai apa saja yang telah murid pelajari, tingkat kesulitan pelajaran menurut murid secara individual maupun kelompok, dan perasaan mereka terhadap materi yang diajarkan.
Pernyataan individual:
• Hari ini saya telah belajar mengenai ….. Besok saya membutuhkan ……….
• Hari ini saya merasa …….. karena …………
• Saya berharap pada kesempatan berikut kita akan ………
• Saya akan memberi warna ….. pada hari ini karena ……….
• Satu kata yang paling cocok untuk menggambarkan hari ini adalah ………
Pernyataan kelompok:
• Kelompok kita luar biasa hari ini karena ……….
• Besok kita akan ……
• Tema lagu untuk hasil kerja kita hari ini adalah ………

Daftar Pustaka
Amstrong, Thomas, Sekolah Para Juara: Menerapkan Multiple Intelligences di Dunia Pendidikan, Kaifa, Bandung, 2002
________________, 7 Kinds of Smart: Menemukan dan Meningkatkan Kecerdasan Anda Berdasarkan Teori Multiple Intelligences, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003
________________, Awakening Genius in The Classroom, Interaksara, Batam, 2004
________________, Awakening Your Child’s Natural Genius, Interaksara, Batam, 2004
Dryeden, dan Vos, Revolusi Cara Belajar: Belajar akan Efektif Kalau Anda dalam Keadaan “Fun”, Kaifa, 2001.
Gunawan, Adi W., Accelerated Teaching Strategy: Petunjuk Praktis Untuk Menerapkan Accelerated Learning, Gramedia, Jakarta, 2004.

MODEL PEMBELAJARAN
LEARNING CYCLE (LC)

1. Pengertian Model Learning Cycle (LC)
Siklus Belajar (Learning Cycle) atau dalam penulisan ini disingkat LC adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centered). LC merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga peserta didik dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperanan aktif.
LC pada mulanya terdiri dari fase-fase eksplorasi (exploration), pengenalan konsep (concept introduction), dan aplikasi konsep (concept application) (Karplus dan Their dalam Renner et al, 1988). Pada tahap eksplorasi, peserta didik diberi kesempatan untuk memanfaatkan panca inderanya semaksimal mungkin dalam berinteraksi dengan lingkungan melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum, menganalisis artikel, mendiskusikan fenomena alam, mengamati fenomena alam atau perilaku sosial, dan lain-lain. Dari kegiatan ini diharapkan timbul ketidakseimbangan dalam struktur mentalnya (cognitive disequilibrium) yang ditandai dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada berkembangnya daya nalar tingkat tinggi (high level reasoning) yang diawali dengan kata-kata seperti mengapa dan bagaimana (Dasna, 2005, Rahayu, 2005).
Munculnya pertanyaan-pertanyaan tersebut sekaligus merupakan indikator kesiapan peserta didik untuk menempuh fase berikutnya, fase pengenalan konsep. Pada fase ini diharapkan terjadi proses menuju kesetimbangan antara konsep-konsep yang telah dimiliki peserta didik dengan konsep-konsep yang baru dipelajari melalui kegiatan-kegiatan yang membutuhkan daya nalar seperti menelaah sumber pustaka dan berdiskusi. Pada tahap ini peserta didik mengenal istilah-istilah yang berkaitan dengan konsep-konsep baru yang sedang dipelajari. Pada fase terakhir, yakni aplikasi konsep, peserta didik diajak menerapkan pemahaman konsepnya melalui kegiatan-kegiatan seperti problem solving (menyelesaikan problem-problem nyata yang berkaitan) atau melakukan percobaan lebih lanjut.. Penerapan konsep dapat meningkatkan pemahaman konsep dan motivasi belajar, karena peserta didik mengetahui penerapan nyata dari konsep yang mereka pelajari.
Implementasi LC dalam pembelajaran menempatkan guru sebagai fasilitator yang mengelola berlangsungnya fase-fase tersebut mulai dari perencanaan (terutama pengembangan perangkat pembelajaran), pelaksanaan (terutama pemberian pertanyaan-pertanyaan arahan dan proses pembimbingan) sampai evaluasi. Efektifitas implementasi LC biasanya diukur melalui observasi proses dan pemberian tes. Jika ternyata hasil dan kualitas pembelajaran tersebut ternyata belum memuaskan, maka dapat dilakukan siklus berikutnya yang pelaksanaannya harus lebih baik dibanding siklus sebelumnya dengan cara mengantisipasi kelemahan-kelemahan siklus sebelumnya, sampai hasilnya memuaskan.

2. Ciri-Ciri Model Learning Cycle (LC)
Untuk menjelaskan ciri-ciri model LC terlebih dahulu akan dijelaskan dasar-dasar teoritisnya. LC patut dikedepankan, karena sesuai dengan teori belajar Piaget (Renner et al, 1988), teori belajar yang berbasis konstruktivisme. Piaget menyatakan bahwa belajar merupakan pengembangan aspek kognitif yang meliputi: struktur, isi, dan fungsi. Struktur intelektual adalah organisasi-organisasi mental tingkat tinggi yang dimiliki individu untuk memecahkan masalah-masalah. Isi adalah perilaku khas individu dalam merespon masalah yang dihadapi. Sedangkan fungsi merupakan proses perkembangan intelektual yang mencakup adaptasi dan organisasi (Arifin, 1995).
Adaptasi terdiri atas asimilasi dan akomodasi. Pada proses asimilasi individu menggunakan struktur kognitif yang sudah ada untuk memberikan respon terhadap rangsangan yang diterimanya. Dalam asimilasi individu berinteraksi dengan data yang ada di lingkungan untuk diproses dalam struktur mentalnya. Dalam proses ini struktur mental individu dapat berubah, sehingga terjadi akomodasi. Pada kondisi ini individu melakukan modifikasi dari struktur yang ada, sehingga terjadi pengembangan struktur mental. Pemerolehan konsep baru akan berdampak pada konsep yang telah dimiliki individu. Individu harus dapat menghubungkan konsep yang baru dipelajari dengan konsep-konsep lain dalam suatu hubungan antar konsep. Konsep yang baru harus diorganisasikan dengan konsep-konsep lain yang telah dimiliki. Organisasi yang baik dari intelektual seseorang akan tercermin dari respon yang diberikan dalam menghadapi masalah.
Karplus dan Their (dalam Renner et al, 1988) mengembangkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan ide Piaget di atas. Dalam hal ini peserta didik diberi kesempatan untuk mengasimilasi informasi dengan cara mengeksplorasi lingkungan, mengakomodasi informasi dengan cara mengembangkan konsep, mengorganisasikan informasi dan menghubungkan konsep-konsep baru dengan menggunakan atau memperluas konsep yang dimiliki untuk menjelaskan suatu fenomena yang berbeda.
Implementasi teori Piaget oleh Karplus dikembangkan menjadi fase eksplorasi, pengenalan konsep, dan aplikasi konsep . Unsur-unsur teori belajar Piaget (asimilasi, akomodasi, dan organisasi) mempunyai korespondensi dengan fase-fase dalam LC (Abraham et al, 1986).
LC melalui kegiatan dalam tiap fase mewadahi peserta didik untuk secara aktif membangun konsep-konsepnya sendiri dengan cara berinteraksi dengan lingkungan fisik maupun sosial. Implementasi LC dalam pembelajaran sesuai dengan pandangan kontruktivis yaitu:
a. Peserta didik belajar secara aktif. Peserta didik mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja dan berpikir. Pengetahuan dikonstruksi dari pengalaman peserta didik.
b. Informasi baru dikaitkan dengan skema yang telah dimiliki peserta didik. Informasi baru yang dimiliki peserta didik berasal dari interpretasi individu.
c. Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang merupakan pemecahan masalah. (Hudojo, 2001)
Dengan demikian proses pembelajaran bukan lagi sekedar transfer pengetahuan dari guru ke peserta didik, seperti dalam falsafah behaviorisme, tetapi merupakan proses pemerolehan konsep yang berorientasi pada keterlibatan peserta didik secara aktif dan langsung. Proses pembelajaran demikian akan lebih bermakna dan menjadikan skema dalam diri peserta didik menjadi pengetahuan fungsional yang setiap saat dapat diorganisasi oleh peserta didik untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi. Hasil-hasil penelitian di perguruan tinggi dan sekolah menengah tentang implementasi LC dalam pembelajaran sain menunjukkan keberhasilan model ini dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar peserta didik (Budiasih dan Widarti, 2004; Fajaroh dan Dasna, 2004)

3. Tujuan Model Learning Cycle (LC)
Tujuan model Learning Cycle (LC) dalam aplikasinya dalam pembelajaran di kelas adalah antara lain sebagai berikut:
a. Meningkatkan motivasi belajar karena peserta didik dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran
b. Membantu mengembangkan sikap ilmiah peserta didik
c. Pembelajaran menjadi lebih bermakna
Adapun kekurangan penerapan strategi ini yang harus selalu diantisipasi diperkirakan sebagai berikut (Soebagio, 2000): bahwa efektifitas pembelajaran rendah jika guru kurang menguasai materi dan langkah-langkah pembelajaran. Menuntut kesungguhan dan kreativitas guru dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran. Memerlukan pengelolaan kelas yang lebih terencana dan terorganisasi. Memerlukan waktu dan tenaga yang lebih banyak dalam menyusun rencana dan melaksanakan pembelajaran.

4. Strategi (Langkah-Langkah) Model Learning Cycle (LC)
Pada awalnya learning cycle dikembangkan kedalam 3 fase pembelajaran, yaitu fase Exploration, fase Invention, dan fase Discovery, yang kemudian istilahnya diganti menjadi Exploration, Concept Introduction dan Concept Application ( E-I-A). Walaupun istilah yang digunakan untuk ketiga fase ini berbeda, akan tetapi tujuan dan pedagoginya masih tetap sama. Model ini kemudian dikembangkan dan dirinci lagi menjadi lima fase, yang dikenal dengan sebutan 5E (Engagement, Exploration, Explanation, Elaboration/ Extention, Evaluation). Setiap fase dalam model ini memiliki fungsi khusus yang dimaksudkan untuk menyumbang proses belajar dikaitkan dengan asumsi tentang aktifitas mental dan fisik peserta didik serta strategi yang digunakan guru. Dewasa ini model learning cycle dikembangkan lagi menjadi tujuh fase yang dikenal dengan nama 7E (Excite, Explore, Explain, Expand, Extend, Exchange, dan Examine).
Modul ini akan menggunakan model 5E (Engagement, Exploration, Explanation, Elaboration/ Extention, Evaluation). Berikut ini gambar siklus model 5E tersebut.

Berikut ini penjelasan fase demi fase.
a. Fase 1: Engagement
Tahap ini dirancang untuk membantu peserta didik memahami tugas belajar dan membuat hubungan pengalaman pembelajaran masa lalu dan kini. Fase ini guru berusaha untuk merangsang rasa ingin tahu mereka dengan pertanyaan-pertanyaan. Meminta peserta didik untuk mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri tentang topik tersebut.
Peserta didik mengeksplorasi pertanyaan yang muncul setelah mereka mendapatkan lebih pemahaman tentang topik dan peralatan yang diperlukan untuk menyelidiki ide-ide. Kegiatan khas dalam tahap ini meliputi mengemukakan pertanyaan, mendefinisikan masalah, atau menunjukkan peristiwa berbeda, kemudian menggunakan kelompok kecil untuk merangsang diskusi dan berbagi gagasan.
Untuk menghubungkan sains dalam kehidupan peserta didik, kita bisa menggunakan peristiwa-peristiwa sejarah, seperti bencana alam, untuk merangsang keingintahuan dan memotivasi belajar. Guru hendaknya membantu peserta didik sebelumnya untuk menghubungkan pengetahuan untuk konsep-konsep baru yang diperkenalkan.
Tujuan dari fase ini secara garis besar adalah agar peserta didik fokus pada topik, mengetahui pengetahuan awal peserta didik, menginformasikan peserta didik mengenai tujuan pelajaran itu, mengingatkan peserta didik apa yang sudah diketahuinya dan hubungannya dengan apa yang akan dipelajari, merangsang peserta didik untuk mengemukakan pertanyaan yang dapat dieksplorasi pada kegiatan belajar yang akan dilalui berikutnya. Dan tentu hal ini akan lebih menarik mereka untuk melakukan kegiatan belajar.
b. Fase 2 : Exploration
Pada tahap eksplorasi peserta didik memiliki kesempatan untuk mendapatkan secara langsung dan terlibat dalam kegiatan melalui eksplorasi ilmiah untuk memperoleh konsep-konsep. Mereka mulai mengidentifikasi pola dalam data dan menghubungkan antara satu dengan yang lain. Ini lebih lanjut membangkitkan rasa ingin tahu peserta didik dan mengembangkan pertanyaan-pertanyaan baru. Sering, peserta didik akan menyimpang dari kegiatan yang dijadwalkan untuk mengeksplorasi pertanyaan mereka sendiri, terus-menerus membangun basis pengetahuan mereka.
Melalui proses pertanyaan dan eksplorasi, peserta didik mulai merumuskan pemahaman tentang konsep-konsep dasar. Pada tahap ini, guru mendengarkan dan memperhatikan peserta didik saat mereka berinteraksi satu sama lain. Pertanyaan yang membantu peserta didik mengklarifikasi pemahaman mereka tentang konsep utama sangat diperlukan. Pada intinya tahap bagian ini para peserta didik diberi waktu untuk berpikir, merencanakan, menyelidiki, dan mengatur informasi yang dikumpulkan. Kegiatan yang bisa dilakukan oleh peserta didik pada fase ini antara lain: mengumpulkan informasi dari sumber yang berhubungan dengan materi, melakukan eksperimen (percobaan) untuk memperoleh data-data, mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi, mengkonstruksi sebuah model, dan sebagainya.
c. Fase 3 : Explanation
Pada tahap ini peserta didik menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri, guru meminta bukti dan klarifikasi dari penjelasan mereka dan mengarahkan kegiatan diskusi, peserta didik menemukan istilah-istilah dari konsep yang dipelajari, mengkaji literatur, dan diskusi kelas.
d. Fase 4 : Extention/Elaboration
Bagian ini memberikan siswa kesempatan untuk memperluas dan memperkuat pemahaman mereka tentang konsep dan / atau menerapkannya untuk situasi dunia nyata. Siswa mengembangkan apa yang telah mereka pelajari dan menerapkan pengetahuan baru mereka ke situasi yang berbeda
e. Fase 5 : Evaluation
Evaluasi dilakukan ketika proses berlangsung dari tahap ke satu sampai ke empat. Apakah peserta didik benar-benar tertarik dengan pembelajaran yang dilakukan? Apakah peserta didik mengetahui hubungan antara yang dipelajari dengan kehidupan nyata? Apakah peserta didik sudah mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan persamalahan-permasalahan yang akan dicarikan solusinya? Apakah peserta didik telah melakukan kegiatan eksperimen dan pencarian sumber-sumber informasi secara baik? Apakah peserta didik telah mengungkapkan pengetahuan yang telah didapatkan dengan bahasanya sendiri? Apakah peserta didik telah menerapkan konsep yang dipahaminya dalam situasi dunia nyata? Beberapa pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijadikan sebagai pedoman untuk melakukan evaluasi dalam proses pembelajaran dengan menggunakan model LC 5E ini.

MODEL PEMBELAJARAN
LATIHAN INKUIRI

1. Pengertian Model Pembelajaran Latihan Inkuiri
Model pembelajaran Latihan Inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankann pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa (Wina Sanjaya, 2008: 196)
Model pembelajaran Latihan Inkuiri ini didasarkan pada aliran belajar kognitif. Aliran ini menyatakan bahwa belajar adalah proses mental dan proses berpikir dengan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki setiap individu secara optimal. Belajar bukan hanya menyerap dan menerima ilmu pengetahuan, tetapi belajar adalah sebuah proses untuk memperoleh ilmu pengetahuan sehingga ilmu tersebut benar-benar bermakna bagi pembelajar. Menurut aliran belajar kognitif ini, yang lebih ditekankan dalam proses belajar adalah proses mental seseorang untuk memaknai lingkungannya. Aliran ini tidak berorientasi pada seberapa banyak ilmu (hafalan) yang ada di kepala seseorang, tetapi berorientasi bagaimana ia mampu menemukan pengetahuan melalui proses mental yang benar. Proses mental itulah yang sebenarnya aspek yang sangat penting dalam perilaku belajar.
Koffka, misalnya, melalui teori Gestalt menjelaskan bahwa perubahan perilaku itu disebabkan karena adanya insight dalam diri peserta didik, dengan demikian tugas guru adalah menyediakan lingkungan yang dapat memungkinkan setiap peserta didik bisa menangkap dan mengembangkan insight itu sendiri. Hal ini dikemukakan juga oleh Kurt Lewin, dalam teori medannya, bahwa belajar itu pada dasarnya adalah proses pengubahan struktur kognitif.
Teori belajar lainnya yang menjadi penopang model Latihan Inkuiri adalah teori belajar kostruktivisme Piaget. Menurutnya, pengetahuan itu akan bermakna manakala dicari dan ditemukan sendiri oleh peserta didik. Setiap individu sejak kecil selalu berusaha dan mampu mengembangkan pengetahuannya sendiri melalui skema yang ada dalam struktur kognitifnya. Skema ini secara terus menerus diperbarui dan diubah melalui proses asimilasi dan akomodasi. Dengan demikian tugas guru adalah mendorong peserta didik untuk mengembangkan skema yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi itu.
Model pembelajaran Latihan Inkuiri berangkat dari asumsi bahwa sejak manusia lahir ke dunia, manusia memiliki dorongan untuk menemukan sendiri pengetahuannya. Rasa ingin tahu tentang keadaan alam di sekelilingnya merupakan kodrat manusia sejak ia lahir ke dunia. Sejak kecil manusia memiliki keinginan untuk mengenal segala sesuatu melalui indra pengecapan, pendengaran, penglihatan, dan indra-indra lainnya. Hingga dewasa keingintahuan manusia secara terus menerus berkembang dengan menggunakan otak dan pikirannya. Pengetahuan manusia akan bermakna (meaningfull) manakala didasari oleh keinginatahuan itu. Dalam rangka itulah model Latihan Inkuiri dikembangkan.

2. Ciri-ciri Model Pembelajaran Latihan Inkuiri
Untuk semakin memperjelas tentang model Latihan Inkuiri ini, berikut akan dijelaskan tentang ciri-cirinya. Menurut Wina Sanjaya (2008: 196), setidaknya ada tiga ciri, yakni:
a. Latihan Inkuiri menekankan kepada aktivitas peserta didik secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya model ini menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran, peserta didik tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri.
b. Seluruh aktivitas yang dilakukan peserta didik diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief). Dengan demikian, model ini menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar peserta didik.
c. Tujuan dari penggunaan model pembelajaran Latihan Inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Dengan demikian, dalam model ini peserta didik tidak hanya dituntut agar menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya. Manusia yang hanya menguasai pelajaran belum tentu dapat mengembangkan kemampuan berpikir secara optimal; namun sebaliknya, peserta didik akan dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya manakalah ia bisa menguasai materi pelajaran.
Melihat ciri-ciri di atas, maka menurut Wina Sanjaya (2008: 197) model pembelajaran Latihan Inkuiri ini akan efektif digunakan jika memenuhi kondisi berikut ini:
a. Guru mengharapkan peserta didik dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan. Dengan demikian dalam model Latihan Inkuiri ini, penguasaan materi bukan sebagai tujuan utama pembelajaran, akan tetapi yang lebih dipentingkan adalah proses belajar.
b. Jika bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak berbentuk fakta atau konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian
c. Jika proses pembelajaran berangkat dari rasa ingin tahu peserta didik terhadap sesuatu.
d. Jika guru akan mengajar sekelompok peserta didik yang rata-rata memiliki kemauan dan kemampuan berpikir. Model ini akan kurang berhasil diterapkan kepada peserta didik yang kurang memiliki kemampuan untuk berpikir.
e. Jika jumlah peserta didik tidak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru.
f. Jika guru memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada peserta didik.

3. Tujuan Model Pembelajaran Latihan Inkuiri
Model pembelajaran Latihan Inkuiri ini diterapkan dengan tujuan-tujuan antara lain sebagai berikut:
a. Untuk pengembangan intelektual
Tujuan utama dari model Latihan Inkuiri ini adalah pengembangan kemampuan berpikir. Model ini diterapkan, selain berorientasi pada penguasaan materi (hasil belajar), juga berorientasi pada proses belajar. Oleh karena itu, kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran dengan menggunakan model Latihan Inkuiri ini bukan ditentukan oleh sejauh mana peserta didik dapat menguasai materi pelajaran, tetapi sejauh mana peserta didik beraktivitas mencari dan menemukan sesuatu.
b. Untuk menumbuhkan kemampuan berinteraksi
Model Latihan Inkuiri ini bila diterapkan secara efektif akan mampu menumbuhkan kemampuan berinteraksi antara guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik, dan peserta didik dengan alam sekitarnya. Model pembelajaran yang berorientasi pada teori belajar behaviorisme lebih cenderung guru sebagai satu-satunya pemilik otoritas dalam keilmuan, sedang peserta didik adalah sebagai objek. Model Latihan inkuiri ingin menciptakan guru sebagai pencipta lingkungan. Dalam Model Latihan Inkuiri peserta didik dilatih menjadi seseorang yang mampu bekerja sama dengan orang lain untuk memecahkan masalah-masalah lingkungan.
c. Menumbuhkan kemampuan bertanya
Kemampuan bertanya merupakan salah satu kemampuan untuk mengembangan ilmu pengetahuan. Melalui penerapan model Latihan Inkuiri ini peserta didik dilatih untuk bertanya tentang berbagai fenomena alam sekitarnya untuk dicari jawabannya.
d. Menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif
Melalui penerapan model Latihan Inkuri, peserta didik tidak dijejali dengan pengetahuan di otaknya tetapi dilatih dan dikembangkan kemampuannya dalam berpikir, sehingga peserta didik mampu berpikir kritis, kreatif dan inovatif.
e. Menumbuhkan sikap terbuka
Belajar adalah suatu proses mencoba berbagai kemungkinan. Peserta didik perlu diberikan kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnya. Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya.

4. Strategi (langkah-langkah/sintaks) Model Pembelajaran Latihan Inkuri
Secara umum, langkah-langkah atau sintak dari model pembelajaran Latihan Inkuiri adalah sebagai berikut:
a. Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Gambaran suasana ini adalah peserta didik memiliki motivasi untuk belajar karena mereka memperoleh masalah untuk dipecahkan. Situasi di mana peserta didik memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, lalu termotivasi untuk memenuhi rasa ingin tahu itu dengan cara melakukan kegiatan dan berfikir. Dan situasi seperti menjadi penentu keberhasilan penggunaan model pembelajaran Latihan Inkuiri ini. Beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk menciptakan situasi tersebut antara lain:
1) Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh peserta didik.
2) Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan.
3) Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hubungkan topik ini dalam kehidupannya dan apa manfaat belajar dari topik ini.
b. Merumuskan Masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa peserta didik pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang peserta didik untuk berpikir memecahkan teka-teki tersebut. Dikatakan teka-teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya. Proses mencari jawaban masalah tersebut itulah yang penting dalam penerapan model pembelajaran Latihan Inkuiri. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan masalah, antara lain:
1) Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh peserta didik. Hal ini akan memotivasi peserta didik untuk mencari jawabannya, sebab dia merasa terlibat di dalamnya.
2) Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka-teki yang jawabannya pasti. Artinya, guru perlu mendorong agar peserta didik dapat merumuskan masalah yang menurut guru jawaban sebenarnya sudah ada, tinggal peserta didik mencari dan mendapatkan jawabannya secara pasti.
3) Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh peserta didik. Maka guru seharusnya yakin terlebih dahulu bahwa peserta didik benar-benar telah mengetahui konsep-konsep tersebut.
c. Mengajukan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Hipotesis tersebut harus didasarkan pada kerangka berpikir yang kokoh.
d. Mengumpulkan Data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam model Latihan Inkuiri ini, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pengumpulan data disamping membutuhkan motivasi berpikir, juga ketekunan, ketelitian.
e. Menguji Hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Kegiatan ini melatih peserta didik untuk memberikan jawaban dengan menggunakan cara berpikir logis argumentatif yang disertai dengan bukti-bukti atau data-data yang telah diperoleh.
f. Merumuskan Kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan tahap akhir dari sebuah pembelajaran dengan menggunakan model Latihan Inkuiri ini.

PAKEM

A. PENGERTIAN
PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Sehingga, jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain. Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.
Dalam paradigma baru pendidikan, tujuan pembelajaran bukan hanya untuk merubah perilaku siswa, tetapi membentuk karakter dan sikap mental profesional yang berorientasi pada global mindset. Fokus pembelajarannya adalah pada ‘mempelajari cara belajar’ (learning how to learn) dan bukan hanya semata pada mempelajari substansi mata pelajaran. Sedangkan pendekatan, strategi dan metoda pembelajarannya adalah mengacu pada konsep konstruktivisme yang mendorong dan menghargai usaha belajar siswa dengan proses enquiry & discovery learning. Dengan pembelajaran konstruktivisme memungkinkan terjadinya pembelajaran berbasis masalah. Siswa sebagai stakeholder terlibat langsung dengan masalah, dan tertantang untuk belajar menyelesaikan berbagai masalah yang relevan dengan kehidupan mereka. Dengan skenario pembelajaran berbasis masalah ini siswa akan berusaha memberdayakan seluruh potensi akademik dan strategi yang mereka miliki untuk menyelesaikan masalah secara individu/kelompok. Prinsip pembelajaran konstruktivisme yang berorientasi pada masalah dan tantangan akan menghasilkan sikap mental profesional, yang disebut researchmindedness dalam pola pikir siswa, sehingga kegiatan pembelajaran selalu menantang dan menyenangkan.
Pakem yang merupakan singkatan dari pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan, merupakan sebuah model pembelajaran kontekstual yang melibatkan paling sedikit empat prinsip utama dalam proses pembelajarannya. Pertama, proses Interaksi (siswa berinteraksi secara aktif dengan guru, rekan siswa, multi-media, referensi, lingkungan dsb). Kedua, proses Komunikasi (siswa mengkomunikasikan pengalaman belajar mereka dengan guru dan rekan siswa lain melalui cerita, dialog atau melalui simulasi role-play). Ketiga, proses Refleksi, (siswa memikirkan kembali tentang kebermaknaan apa yang mereka telah pelajari, dan apa yang mereka telah lakukan). Keempat, proses Eksplorasi (siswa mengalami langsung dengan melibatkan semua indera mereka melalui pengamatan, percobaan, penyelidikan dan/atau wawancara).
Pelaksanaan Pakem harus memperhatikan bakat, minat dan modalitas belajar siswa, dan bukan semata potensi akademiknya. Dalam pendekatan pembelajaran Quantum (Quantum Learning) ada tiga macam modalitas siswa, yaitu modalitas visual, auditorial dan kinestetik. Dengan modalitas visual dimaksudkan bahwa kekuatan belajar siswa terletak pada indera ‘mata’ (membaca teks, grafik atau dengan melihat suatu peristiwa), kekuatan auditorial terletak pada indera ‘pendengaran’ (mendengar dan menyimak penjelasan atau cerita), dan kekuatan kinestetik terletak pada ‘perabaan’ (seperti menunjuk, menyentuh atau melakukan). Jadi, dengan memahami kecenderungan potensi modalitas siswa tersebut, maka seorang guru harus mampu merancang media, metoda/atau materi pembelajaran kontekstual yang relevan dengan kecenderungan potensi atau modalitas belajar siswa.
Secara garis besar, gambaran PAKEM adalah sebagai berikut:
Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
1. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
2. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’
3. Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.
4. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.

B. PRINSIP PAKEM
Prinsip PAKEM antara lain:
1. Mengalami: peserta didik terlibat secara aktif baik fisik, mental maupun emosional
2. Komunikasi: kegiatan pembelajaran memungkinkan terjadinya komunikasi antara guru dan peserta diidik
3. Interaksi: kegiatan pembelajarannyaa memungkinkan terjadinya interaksi multi arah
4. Refkesi: kegiatan pembelajarannya memungkinkan peserta didik memikirkan kembali apa yang telah dilakukan
C. KARAKTERISTIK PAKEM
Ciri-ciri/karakteristik PAKEM adalah:
1. Pembelajarannya mengaktifkan peserta didik
2. Mendorong kreativitas peserta didik &guru
3. Pembelajarannya efektif
4. Pembelajarannya menyenangkan utamanya bagi peserta didik

D. PERANAN GURU
Agar pelaksanaan Pakem berjalan sebagaimana diharapkan, John B. Biggs and Ross Telfer, dalam bukunya “The Process of Learning”, 1987, edisi kedua, menyebutkan paling tidak ada 12 aspek dari sebuah pembelajaran kreatif, yang harus dipahami dan dilakukan oleh seorang guru yang baik dalam proses pembelajaran terhadap siswa:
1. Memahami potensi siswa yang tersembunyi dan mendorongnya untuk berkembang sesuai dengan kecenderungan bakat dan minat mereka,
2. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar meningkatkan rasa tanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan bantuan jika mereka membutuhkan,
3. Menghargai potensi siswa yang lemah/lamban dan memperlihatkan entuisme terhadap ide serta gagasan mereka,
4. Mendorong siswa untuk terus maju mencapai sukses dalam bidang yang diminati dan penghargaan atas prestasi mereka,
5. Mengakui pekerjaan siswa dalam satu bidang untuk memberikan semangat pada pekerjaan lain berikutnya.
6. Menggunakan kemampuan fantasi dalam proses pembelajaran untuk membangun hubungan dengan realitas dan kehidupan nyata.
7. Memuji keindahan perbedaan potensi, karakter, bakat dan minat serta modalitas gaya belajar individu siswa,
8. Mendorong dan menghargai keterlibatan individu siswa secara penuh dalam proyek-proyek pembelajaran mandiri,
9. Menyatakan kapada para siswa bahwa guru-guru merupakan mitra mereka dan perannya sebagai motivator dan fasilitator bagi siswa.
10. Menciptakan suasana belajar yang kondusif dan bebas dari tekanan dan intimidasi dalam usaha meyakinkan minat belajar siswa,
11. Mendorong terjadinya proses pembelajaran interaktif, kolaboratif, inkuiri dan diskaveri agar terbentuk budaya belajar yang bermakna (meaningful learning) pada siswa.
12. Memberikan tes/ujian yang bisa mendorong terjadinya umpan balik dan semangat/gairah pada siswa untuk ingin mempelajari materi lebih dalam.
Selanjutnya bentuk-bentuk pertanyaan yang dapat menggugah terjadinya ”pembelajaran aktif,kreatif, efektif dan menyenangkan” (Pakem), bisa diterapkan antara lain dalam salah satu kegiatan belajar kelompok (studi kasus). Menurut Wassermen (1994), pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan pemikiran yang dalam untuk sebuah solusi atau yang bersifat mengundang, bukan instruksi atau memerintah. Misalnya dengan menggunakan kata kerja : menggambarkan, membandingkan, menjelaskan, menguraikan atau dengan menggunakan kata-kata: apa, mengapa atau bagaimana dalam kalimat bertanya. Berikut adalah beberapa contoh bentuk pertanyaan yang bisa memberikan respon kreatif terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut.
1. Jelaskan bagaimana situasi ini bisa ditangani secara berbeda ?
2. Bandingkan situasi ini dengan situasi sekarang !
3. Ceriterakan contoh yang sama dengan pengalaman Anda sendiri !
Para siswa bisa juga diminta untuk menjawab sejumlah pertanyaan yang nampaknya sesuai dengan semua skenario. Contoh pertanyaan-pertanyaan berikut dapat memprovokasi siswa untuk berpikir tentang kasus yang dibahas.
1. Apa yang Anda bayangkan sebagai kemungkinan dari akibat tindakan tersebut ?
2. Dengan melihat kebelakang, bagaimana Anda menilai diri Anda sendiri ?
3. Dengan mengatakan yang sesungguhnya, apa kesimpulan Anda tentang isu penting itu ?
Proses pembelajaran akan berlangsung seperti yang diharapkan dalam pelaksanaan konsep Pakem jika peran para guru dalam berinteraksi dengan siswanya selalu memberikan motivasi, dan memfasilitasinya tanpa mendominasi, memberikan kesempatan untuk berpartisipasi aktif, membantu dan mengarahkan siswanya untuk mengembangkan bakat dan minat mereka melalui proses pembelajaran yang terencana. Perlu dicatat bahwa tugas dan tanggung jawab utama para guru dalam paradigma baru pendidikan ”bukan membuat siswa belajar” tetapi ”membuat siswa mau belajar”, dan juga ”bukan mengajarkan mata pelajaran” tetapi ”mengajarkan cara bagaimana mempelajari mata pelajaran ”. Prinsip pembelajaran yang perlu dilakukan: ”Jangan meminta siswa Anda hanya untuk mendengarkan, karena mereka akan lupa. Jangan membuat siswa Anda memperhatikan saja, karena mereka hanya bisa mengingat. Tetapi yakinkan siswa Anda untuk melakukannya, pasti mereka akan mengerti”.

E. APA YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM PAKEM?
1. Memahami sifat yang dimiliki anak
Pada dasarnya anak memiliki sifat: rasa ingin tahu dan berimajinasi. Anak desa, anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia, atau anak bukan Indonesia – selama mereka normal – terlahir memiliki kedua sifat itu. Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap/berpikir kritis dan kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu lahan yang harus kita olah sehingga subur bagi berkembangnya kedua sifat, anugerah Tuhan, tersebut. Suasana pembelajaran dimana guru memuji anak karena hasil karyanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang, dan guru yang mendorong anak untuk melakukan percobaan, misalnya, merupakan pembelajaran yang subur seperti yang dimaksud.
2. Mengenal anak secara perorangan
Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam PAKEM (Pembelajaran Aktif, Menyenangkan, dan Efektif) perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua anak dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah (tutor sebaya). Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya bila mendapat kesulitan sehingga belajar anak tersebut menjadi optimal.
3. Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar
Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan atau berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang.
4. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah
Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal ini memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah; dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berpikir tersebut, kritis dan kreatif, berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas guru adalah mengembangkannya, antara lain dengan sering-sering memberikan tugas atau mengajukan pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata “Apa yang terjadi jika …” lebih baik daripada yang dimulai dengan kata-kata “Apa, berapa, kapan”, yang umumnya tertutup (jawaban betul hanya satu).
5. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan dalam PAKEM. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas seperti itu. Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa, dan ditata dengan baik, dapat membantu guru dalam PEMBELAJARAN karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah.
6. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat anak merasa senang dalam belajar. Belajar dengan menggunakan lingkungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pemanfaatan lingkungan dapat men-gembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasi, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram.
7. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar
Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka.
8. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental
Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok serta siswa duduk saling berhadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang sebenarnya dari PAKEM. Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa takut tersebut, baik yang datang dari guru itu sendiri maupun dari temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan ‘PAKEMenyenangkan.’

F. PELAKSANAAN PAKEM
Gambaran PAKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama PEMBELAJARAN. Pada saat yang sama, gambaran tersebut menunjukkan kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut. Berikut tabel beberapa contoh kegiatan pembelajaran dan kemampuan guru.
Kemampuan Guru Pembelajaran
Guru menggunakan alat bantu dan sumber belajar yang beragam. Sesuai mata pelajaran, guru menggunakan, misal:
Alat yang tersedia atau yang dibuat sendiri
Gambar
Studi kasus
Nara sumber
Lingkungan
Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan. Siswa:
Melakukan percobaan, pengamatan, atau wawancara
Mengumpulkan data/jawaban dan mengolahnya sendiri
Menarik kesimpulan
Memecahkan masalah, mencari rumus sendiri
Menulis laporan/hasil karya lain dengan kata-kata sendiri
Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara lisan atau tulisan. Melalui:
Diskusi
Lebih banyak pertanyaan terbuka
Hasil karya yang merupakan pemikiran anak sendiri
Guru menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa. Siswa dikelompokkan sesuai dengan kemampuan (untuk kegiatan tertentu)
Bahan pelajaran disesuaikan dengan kemampuan kelompok tersebut.
Tugas perbaikan atau pengayaan diberikan
Guru mengaitkan PEMBELAJARAN dengan pengalaman siswa sehari-hari. Siswa menceritakan atau memanfaatkan pengalamannya sendiri.
Siswa menerapkan hal yang dipelajari dalam kegiatan sehari-hari
Menilai PEMBELAJARAN dan kemajuan belajar siswa secara terus menerus. Guru memantau kerja siswa
Guru memberikan umpan balik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: